KELOMPOK USAHA DAN NILAI TAMBAH
Selama
ini yang lazim kita lakukan adalah membuat analisis sumbangan sektor-sektor
ekomoni dalam pembentukan PDB. Untuk menilai posisi strategis
kelompok usaha terutama usaha kecil hanya akan dapat diperlihatkan melalui
konstribusi kelompok usaha menurut sektor ekonomi. Dengan melihat kelompok
usaha ini akan mampu melihat kemampuan potensial kelompok usaha dalam
menghasilkan pertumbuhan.
Proses transformasi
struktural perekonomian kita memang telah berhasil menggeser dominasi sektor
pertanian, sehingga sampai dengan menjelang krisis ekonomi (1997) sumbangan
sektor pertanian 16% saja, sementara sektor industri teah mencapai hampir 27%
dan menjadi penyumbang terbesar dari perekonomian kita. Secara makro proses
pemulihan ekonomi Indonesia belum terjadi karena indeks output pada
tahun 2001 belum kembali pada tingkat krisis (1997), yang memperlihatkan bahwa
indeks PDB keseluruhan baru mencapai 95% dari tingkat produksi 1997.
Jika
kita cermati secara lebih rinci penyumbang PDB atas dasar sektor pelaku usaha
akan terlihat jelas adanya ketimpangan tersebut. Sejak sebelum krisis ekonomi,
hingga mulai meredanya krisis terlihat bahwa ranking 1 (satu) penyumbang
PDB adalah kelompok usaha besar pada sektor industri pengolahan dengan
sumbangan berkisar 17-19% selama 1997-2001. Ini berarti untuk pertumbuhan
ekonomi semata, kita tetap bersandar pada bangkitnya kembali industri
pengolahan besar dengan asset diatas Rp. 10 miliar di luar tanah dan bangunan.
Kelompok
usaha kecil di seluruh sektor telah mengalami pergeseran peran dengan sumbangan
terhadap PDB yang meningkat dari 38,90% pada tahun 1996 atau 40,45% pada tahun
1997 menjadi 43,08% pada tahun 1999. Pada sektor industri pengolahan tidak
terjadi perubahan yang nyata yakni 3,90% pada tahun 1997, 4,03% pada tahun
1998,3,85% pada tahun 1999, 3,74% pada tahun 2000, dan 3,79% pada tahun 2001.
Dengan gambaran ini memang belum dapat disimpulkan bahwa industri
kecil mampu menjadi motot pertumbuhan, sehingga tidak mampu memanfaatkan
momentum untuk mengisi kemunduran dan paling terpukul pada saat krisis memuncak
pada tahun 1998-1999.
Penyumbang
terbesar kedua adalah kelompok
usaha kecil sektor pertanian yang menyumbang sekitar 13-17% selama
periode 1997-2001. Salah satu alasan yang dapat diterima adalah rendahnya harga
output produk primer pertanian yang bersamaan dengan naiknya harga input, terutama
yang bersumber dari impor. Jika pada tahun 1997 Usaha Kecil sekotr pertanian
menyumbang sebesar 13,30% pada tahun 1998 dan 1999 meningkat 17%, maka pada
tahun 2001 diperkirakan menjadi 13,93%. Keadaan ini akan berlanjut sejalan
dengan menurunnya peran sektor pertanian dalam pembentukan PDB.
Sektor
perdagangan hotel dan restoran kelompok usaha kecil menunjukan ranking ke 3
(tiga) dalam
sumbangan pada pembentukan PDB. Di ranting ke 4 (empat) yang
memberikan sumbangan pada pembentukan PDB adalah sektor pertambangan
kelompok usaha besar. Sektor jasa-jasa menempati urutan kelima dengan
sumbangan sekitar 4-5% dan didominasi oleh usaha besar.
Dengan
demikian merosotnya peran usaha kecil di sektor pertanian dan perdagangan, maka
du penyumbang besar terhadap nilai tambah dari kelompok usaha kecil ini
dominasinya juga semakin mengecil dalam pembentukan PDB. Sementara itu usaha
menengah yang mengalami kemerosotan di berbagai sektor, maka posisi usaha
menengah semakin tidak menguntungkan.
KENDALA
USAHA KECIL MENENGAH DAN MENJADI MESIN PERTUMBUHAN
Memperhatikan analisis
pada sebelumnya bahwa potensi usaha kecil sebagai motor pertumbuhan ekonomi
bagi pemulihan krisi ekonomi.
Untuk dapat mencerna
secara tepat factor-faktor yang menjadi kendala bagi ekspansi usaha kecil maka
diperlukan pendalaman dengan membuat disagregrasi kelompok usaha kecil.
Sebagaiman diketahui hasil pengolahan data tahun 1993 dari sektor usaha kecil
sekitar 97% terdiri dari usaha kecil-kecil (mikro) dengan omset dibawah Rp. 50
juta.
Masalah mendasar
yang membatasi ekspansi usaha kecil adalah realitas bahwa produktivitasnya
rendah sebagaimana diperlihatkan oleh nilai tambah/tenaga kerja. Jika dilihat
periode sebelum krisis dan keadaan pada saat ini ketika mulai ada upaya kearah
pemulihan ekonomi, yaitu tahun 2001 mengecil menjadi 0,55.
Hambatan untuk
meningkatkan produktivitas usaha kecil mikro tidak terlepas dari kemampuan
mengadopsi teknologi termasuk untuk alih usaha, alih kegiatan, alih komoditas,
karena telah mengalami transformasi dari sektor pertanian ke non pertanian
namun tetap dalam papan bawah. Gambaran ini mengindenkasikan bahwa industri kecil tidak
dapat memikul harapan yang terlmapau besar untuk menjadi motor pertumbuhan.
PERSYARATAN
BAGI MEMAJUKAN UKM
Posisi UKM, terutama
usaha kecil di dominasi oleh dua sektor yakni sektor pertanian dan perdagangan
hotel dan restoran, sehingga focus lebih besar juga harus ditujukan kepada
kedua kelompok ini. Untuk
sektor pertanian untuk mendobrak kungkungan produktivitas/TK yang rendah harus
disertai dengan perubahan mendasar paradigma pengembangan pertanian.
Sub sektor pertanian
tanaman pangan harus didorong untuk menghasilkan produk-produk yang bernilai
tambah tinggi dan kadang-kadang melalui program komoditas perlu dilonggarkan.
Jika
dilihat struktur usaha kecil, maka dapat dipisahkan menjadi dua kelompok besar
yaitu usaha mikro dan usaha kecil. Berdasarkan perkiraan BPS (2001) terdapat
lebih dari 40 juta unit usaha dan hanya 57,473 usaha menengah serta 2095 usaha
bayar. Untuk membangun UKM di Indonsia agar dapat menjadi mesin pertumbuhan
diperlukan reformasi kebijakan yang mendasar.
Salah
satu yang membantu merumuskan kebijakan UKM dalam rangka pemulihan ekonomi
Indonesia pada tahun 1999-2000. UKM viable yang dimaksud mereka adalah dengan
sentuhan sedikit saja akan mampu berkembang sebagaimana lazimnya usaha yang
mampu bersaing
Secara
legal setiap usaha yang ada di berbagai sektor ekonomi menurut pengertian UU
No.9/1995 dapat dikategorikan sebagai usaha kecil sepanjang omsetnya berada di
bawah Rp. 1 miliar, memiliki asset kurang dari Rp. 200 juta di luar tanah dan
bangunandan bukan merupakan dari usaha besar.
Basis penyediaan
pembiayaan sebagai pengolah pakar maka usaha kecil dalam pengertian UU No.
9/1995 dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Kelompok usaha mikro dengan omset dibawah Rp. 50 juta yang
diperkirakan merupakan 97% dari seluruh populasi uaha kecil.
2. Kelompok usaha kecil dengan omset antara Rp. 50 juta – Rp. 500
juta yang jumlahnya reatif kecil hanya sekitar 2% dari seluruh populasi udha
kecil.
3. Kekompok usaha kecl menengah mungkin dapat kits sebut usaha mikro
yang memiliki omset antara Rp. 500 juta – Rp. 1 miliar dan relative sangat
kecil jumlahnya yaitu kurang dari 1% atau tepatnya sekitar 0.5% saja.
Arah dari program ini
adalah menahan agar tidak terjadi kemerosotan taraf hidup kea rah jurang yang
lebih dalam, sehingga tidak menimbulkan korban bagi perekonomian secara
keseluruhan sehingga dapat digolongkan dalam kelompok jarring pengaman sosial.
Strategi dasar pembinaan usaha kecil untuk pertumbuhan, haruslah berani
menetapkan sasaran individual untuk mengangkat usaha mikro potensial menjadi
usaha kecil.
Untuk
menciptakan basis UKM yang kokoh pendekatan pengembangan Klaster Bisnis/Industri
perlu ditumbuh kembangkan. Pendekatan Klastering ini pada dasarnya untuk
mengefektifkan pola pengembangan dengan menjadikan sebagai titik pertumbuhan
bagi bisnis UKM. Inti dari strategi penciptaan klaster yang terpadu dan kokoh
adalah membangun suatu sinergi untuk mencapai suatu “broad base economic
growth” atau pertumbuhan ekonomi dengan basis yang luas.
Dari
segi dukungan yang diperlukan maka persyaratan utama adalah bahwa dalam
semangat otonomi setiap pemerintah daerah harus memberikan dukungan
administrative dan lingkungan kondusif bagi berkembangnya bisnis UKM. Kebijakan
makro dan moneter secara nasional hanya bersifat memberikan arah dan sinyal
alokasi sumber daya dan kesepakatan internasional terhadap dunia bisnis di
daerah.
Dukungan
lain yang penting adalah dukungan non financial dalam pengembangan bisnis UKM.
Klaster yang inovatid akan tumbuh dengan perkembangan kultur tng mendukung.
Dukungan pengembangkan bisnis semacam ini harus ditumbuhkan menjadi suatu
bisnis yang berorientasi komersial.
Dengan
dua basis pendekatan tadi akan tercipta lapisan pengusaha yang dapat menjadi
lokomotif penarik bagi kemajuan masing-masing lapisan pengusaha. Persyaratan
ini yang harus dipenuhi untuk menjadikan usaha kecil sebagai motor pertumbuhan.
PROGRAM-PROGRAM PEMBANGUNAN
Sasaran dan arah
kebijakan pemberdayaan koperasi dan UMKM tersebut diatas dijabarkan ke dalam
program-program pembangunan yang merupakan strategi implementasi pada tataran
makro, meso dan mikro.
1.
PROGRAM PENCIPTAAN IKLIM USAHA BAGI UMKM
Tujuan program ini
adalah untuk memfasilitasi terselenggaranya lingkungan usaha yang efisien
secara ekonomi, sehat dalam persaingan, dan non-dikriminatif bagi kelangsungan
dan peningkatan kinerja usaha UMKM, sehingga dapat mengurangi beban administratif,
hambatan usaha dan biaya usaha maupun meningkatkan rata-rata skala usaha, mutu
layanan perijinan/pendirian usaha, dan partisipasi stakeholders dalam
pengembangan kebijakan UMKM.
Program ini memuat
kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut:
1.
Penyempurnaan peraturan perundangan, seperti UU tentang Usaha Kecil dan
Menengah, dan UU tentang Wajib Daftar Perusahaan, beserta ketentuan
pelaksanaannya dalam rangka membangun landasan legalitas usaha yang kuat, dan
melanjutkan penyederhanaan birokrasi, perijinan, lokasi, serta peninjauan
terhadap peraturan perundangan lainnya yang kurang kondusif bagi UMKM, termasuk
peninjauan terhadap pemberlakuan berbagai pungutan biaya usaha, baik yang
sektoral maupun spesifik daerah;
2.
Fasilitasi dan penyediaan kemudahan dalam formalisasi badan usaha;
3.
Peningkatan kelancaran arus barang, baik bahan baku maupun produk, dan jasa
yang diperlukan seperti kemudahan perdagangan antardaerah dan pengangkutan;
4.
Peningkatan kemampuan aparat dalam melakukan perencananaan dan penilaian
regulasi, kebijakan dan program;
5.
Pengembangan pelayanan perijinan usaha yang mudah, murah dan cepat termasuk
melalui perijinan satu atap bagi UMKM, pengembangan unit penanganan pengaduan
serta penyediaan jasa advokasi/mediasi yang berkelanjutan bagi UMKM;
6.
Penilaian dampak regulasi/kebijakan nasional dan daerah terhadap perkembangan
dan kinerja UMKM, dan pemantauan pelaksanaan kebijakan/regulasi;
7.
Peningkatan kualitas penyelenggaraan koordinasi dalam perencanaan kebijakan dan
program UMKM dengan partisipasi aktif para pelaku dan instansi terkait; dan
8.
Peningkatan penyebarluasan dan kualitas informasi UMKM, termasuk pengembangan
jaringan pelayanan informasinya.
2.
PROGRAM PENGEMBANGAN SISTEM PENDUKUNG USAHA BAGI UMKM
Program ini bertujuan
untuk mempermudah, memperlancar dan memperluas akses UMKM kepada sumber daya
produktif agar mampu memanfaatkan kesempatan yang terbuka dan potensi sumber
daya lokal serta menyesuaikan skala usahanya sesuai dengan tuntutan efisiensi.
Sistem pendukung dibangun melalui pengembangan lembaga pendukung/penyedia jasa
pengembangan usaha yang terjangkau, semakin tersebar dan bermutu untuk
meningkatkan akses UMKM terhadap pasar dan sumber daya produktif, seperti
sumber daya manusia, modal, pasar, teknologi, dan informasi, termasuk mendorong
peningkatan fungsi intermediasi lembaga-lembaga keuangan bagi UMKM.
Kegiatan-kegiatan pokok
dari program ini antara lain mencakup:
1.
Penyediaan fasilitasi untuk mengurangi hambatan akses UMKM terhadap sumber daya
produktif, termasuk sumber daya alam;
2.
Peningkatan peranserta dunia usaha/masyarakat sebagai penyedia jasa layanan
teknologi, manajemen, pemasaran, informasi dan konsultan usaha melalui
penyediaan sistem insentif, kemudahan usaha serta peningkatan kapasitas
pelayanannya;
3.
Peningkatan kapasitas kelembagaan dan kualitas layanan Lembaga Keuangan Mikro
(LKM) dan koperasi simpan pinjam/usaha simpan pinjam (KSP/USP) antara lain
melalui pemberian kepastian status badan hukum, kemudahan dalam perijinan,
insentif untuk pembentukan sistem jaringan antar LKM dan antara LKM dan Bank,
serta dukungan terhadap peningkatan kualitas dan akreditasi KSP/USP/LKM
sekunder;
4.
Perluasan sumber pembiayaan bagi koperasi dan UMKM, khususnya skim kredit
investasi bagi koperasi dan UMKM, dan peningkatan peran lembaga keuangan bukan
bank, seperti perusahaan modal ventura, serta peran lembaga penjaminan kredit
koperasi dan UMKM nasional dan daerah, disertai dengan pengembangan jaringan
informasinya;
5.
Peningkatan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan dana pengembangan UMKM
yang bersumber dari berbagai instansi pemerintah pusat, daerah dan BUMN;
6.
Dukungan terhadap upaya mengatasi masalah kesenjangan kredit (kesenjangan
skala, formalisasi, dan informasi) dalam pendanaan UMKM;
7.
Pengembangan sistem insentif, akreditasi, sertifikasi dan perkuatan
lembaga-lembaga pelatihan serta jaringan kerjasama antarlembaga pelatihan;
8.
Pengembangan dan revitalisasi unit pelatihan dan penelitian dan pengembangan
(litbang) teknis dan informasi milik berbagai instansi pemerintah pusat dan
daerah untuk berperan sebagai lembaga pengembangan usaha bagi UMKM; dan
9.
Dukungan terhadap upaya penguatan jaringan pasar produk UMKM dan anggota
koperasi, termasuk pasar ekspor, melalui pengembangan lembaga pemasaran,
jaringan usaha termasuk kemitraan usaha, dan pengembangan sistem transaksi
usaha yang bersifat on-line, terutama bagi komoditas unggulan berdaya saing
tinggi.
3.
PROGRAM PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN KEUNGGULAN
KOMPETITIF UKM
Program ini ditujukan
untuk mengembangkan jiwa dan semangat kewirausahaan dan meningkatkan daya saing
UKM sehingga pengetahuan serta sikap wirausaha semakin berkembang,
produktivitas meningkat, wirausaha baru berbasis pengetahuan dan teknologi
meningkat jumlahnya, dan ragam produk-produk unggulan UKM semakin berkembang.
Kegiatan-kegiatan pokok
dari program ini antara lain mencakup:
1.
Pemasyarakatan kewirausahaan, termasuk memperluas pengenalan dan semangat
kewirausahaan dalam kurikukulum pendidikan nasional dan pengembangan sistem
insentif bagi wirausaha baru, terutama yang berkenaan dengan aspek
pendaftaran/ijin usaha, lokasi usaha, akses pendanaan, perpajakan dan informasi
pasar;
2.
Penyediaan sistem insentif dan pembinaan serta fasilitasi untuk memacu
pengembangan UKM berbasis teknologi termasuk wirausaha baru berbasis teknologi,
utamanya UKM berorientasi ekspor, subkontrak/penunjang, agribisnis/agroindustri
dan yang memanfaatkan sumber daya lokal;
3.
Penyediaan sistem insentif dan pembinaan untuk meningkatkan kesadaran UKM
tentang HaKI dan pengelolaan lingkungan yang diikuti upaya peningkatan
perlindungan HaKI milik UKM;
Bangun Usaha dan Legalitas
Procter & Gamble
telah melakukan beberapa permulaan yang salah dan bahkan beberapa kegagalan,
tetapi sekarang usaha-usaha pemasaran globalnya membawa hasil. Perusahaan itu,
yang menempati peringkat ke-65 dalam “Perusahaan Terbesar Dunia” dan ke-18
dalam “Perusahaan Industri Terbesar AS” versi majalah Fortune,
memperoleh 51 % dari $35,3 miliar dalam penjualan totalnya dari operasi di luar
AS. Ini semua lebih menarik perhatian karena P & G menghadapi
tekanan-tekanan yang lebih besar di banyak pasar luar negeri daripada di
Amerika Serikat. Terdapat lebih banyak pesaing di Eropa karena kemudahan
mengirim produk-produk melewati perbatasan.
Pada tahun 1940-an,
strategi pasar P & G ialah mengekspor produk-produk intinya untuk membangun
permintaan dan kemudian mendirikan perusahaan-perusahaan penjualan lokal atau
fasilitas-fasilitas produksi. Tidak ada di antara produk-produk itu diluncurkan
dengan maksud distribusi global. Akan tetapi pada awal 1990-an, Edwin Artzt,
yang kemudian menjadi direktur eksekutif P & G, mengubah strategi pemasaran
perusahaan itu. Bukannya menunggu memperkenalkan suatu produk baru ke seluruh
dunia hingga setelah mengumpulkan pengalaman pemasaran di sebuah negara,
perusahaan mencoba untuk memperkenalkan produk-produk pada skala dunia pada
awal pengembangannya. Tujuan strategi ini adalah untuk menghindari memberikan
kepada para pesaing waktu untuk bereaksi di semua pasar yang lain. Adakalanya
perusahaan itu menggunakan pendekatan regional bukannya global, mengubah banyak
produk-produknya untuk disesuaikan dengan pasar-pasar regional.
Sejak 1980, perusahaan
ini telah menaikkan empat kali lipat jumlah konsumen yang dapat dilayaninya
dengan merek-merek-sekitar 5 miliar orang di seluruh dunia. P & G sekarang
memiliki operasi-operasi di lebih dari 70 negara dan produk-produknya dijual di
lebih dari 140 negara, membuat P & G salah satu di antara
perusahaan-perusahaan barang-barang konsumsi paling sukses di dunia.
Tentunya terdapat
persamaan yang kuat, adalah tidak benar bahwa para pemasar di mana-mana harus
(1) mengetahui pasar-pasar mereka, (2) mengembangkan produk-produk atau
jasa-jasa untuk memuaskan pelanggan, (3) harga produk-produk atau jasa-jasa itu
agar segera dapat diterima di pasar, (4) membuatnya tersedia bagi para pembeli,
dan (5) menginformasikan kepada para pelanggan potensial dan membujuk mereka
untuk membeli.
Kompleksitas Pemasaran
Internasional Lainnya
Meskipun
fungsi-fungsi dasar pemasaran domestik dan internasional adalah sama,
pasar-pasar internasional yang dilayani sering sangat berbeda karena
variasi-variasi yang besar dalam kekuatan lingkungan yang tidak dapat
dikendalikan. Tugas manajer pemasaran internasional adalah kompleks. Ia sering
kali harus merencanakan dan mengendalikan beraneka ragam strategi pemasaran,
bukannya satu dan kemudian mengkoordinasikan dan mengintegrasikan
strategi-strategi itu ke dalam sebuah program pemasaran tunggal. Baik
manajer-manajer pemasaran global maupun multinasional, seperti rekan-rekan
domestik mereka, harus mengembangkan strategi-strategi pemasaran dengan menilai
pasar-pasar luar negeri potensial perusahaan itu dan menganalisis banyak bauran
pemasaran alternatif. Tujuannya adalah untuk memilih pasar-pasar sasaran yang
dapat dilayani perusahaan itu dengan memperoleh keuntungan dan merumuskan
berbagai kombinasi taktik-taktik untuk produk, harga, promosi dan saluran
distribusi yang akan melayani pasar-pasar itu sebaik-baiknya.
Bauran Pemasaran
Bauran
pemasaran terdiri dari sebuah kumpulan keputusan strategi yang dibuat di
bidang-bidang produk, promosi, harga, dan distribusi untuk tujuan kenyamanan
para pelanggan di dalam suatu pasar sasaran.
Standarisasi, Adaptasi, atau Berbeda Sama Sekali
Manajemen akan lebih suka standarisasi global dari bauran
pemasaran; yaitu, hal ini akan lebih disukai untuk menggunakan salah satu
bauran pemasaran yang sama dalam seluruh operasi perusahaan sebab standarisasi
dapat menghasilkan penghematan biaya yang cukup berarti. Untuk banyak produk,
baik konsumen maupun industrial, yang memerlukan suku-suku cadang untuk layanan
purna jual, standarisasi sangat menyederhanakan logistik dan akuisisi.
Manfaat-manfaat dari standarisasi bauran pemasaran adalah:
1. Biaya lebih rendah
2. Pengendalian dan koordinasi dari kantor pusat lebih mudah, dan
3. Pengurangan waktu yang dihabiskan dalam penyiapan rencana
pemasaran
Meskipun terdapat beberapa manfaat standarisasi, banyak perusahaan
merasa perlu untuk memodifikasi bauran yang ada maupun mengembangkan yang baru.
Sejauh mana perubahan-perubahan itu bergantung pada jenis produk (konsumen dan
industrial), kekuatan-kekuatan lingkungan, dan tingkat penestrasi
pasar yang diinginkan manajemen.
Strategi-strategi Produk
Produk adalah fokus sentral dari bauran pemasaran. Jika produk
gagal memuaskan kebutuhan konsumen, berapapun besarnya promosi, potongan harga,
atau distribusi tidak akan berhasil membujuk mereka untuk membeli. Dalam
merumuskan strategi-strategi produk, para manajer pemasaran
internasional harus ingat bahwa produk adalah lebih dari sekedar objek fisik.Produk
total yang dibeli pelanggan juga mencakup produk yang bersifat fisik,
merek, aksesoris, layanan purna jual, jaminan, petunjuk pemakaian, citra
perusahaan, dan kemasan. Di bawah ini merupakan gambar yang menjelaskan
komponen-komponen produk total.
Produk Total
![]() |
Jenis Produk. Faktor penting yang
mempengaruhi besarnya perubahan yang akan dilakukan dalam sebuah produk adalah
klasifikasinya sebagai produk atau jasa konsumen atau industrial. Pada umumnya,
produk-produk konsumen memerlukan penyesuaian yang lebih besar
daripada produk-produk industrial untuk memenuhi permintaan pasar dunia. Di
bawah ini merupakan rangkaian kesatuan kepekaan terhadap lingkungan luar
negeri
Tidak
peka Sangat
peka
![]() |
Produk-produk Bahan
baku dasar Produk-produk
Industrial
dan konsumen
bercorak
Jasa-jasa tinggi
dan mengikuti
mode
Produk-produk Industrial. Seperti dapat
disimpulkan dari gambar di atas, banyak produk industrial yang sangat teknis
dapat dijual di seluruh dunia tanpa mengubahnya. Jika perubahan produk
diperlukan, mungkin hanya sebagai polesan seperti mengganti ukuran yang akan
dibaca dalam sistem metrik (ukuran meter) dengan menempelkan sebuah tulisan
baru pada dialatau mencetak pelat-pelat petunjuk pemakaian dalam
bahasa lain. Produk-produk yang dianggap ketinggalan zaman di negara-negara
maju seringkali merupakan apa yang diperlukan oleh negara-negara berkembang.
Kadang-kadang adaptasi diperlukan untuk memenuhi persyaratan undang-undang
setempat, seperti yang mengatur pengaruh kebisingan, keamanan atau emisi gas buang.
Dalam beberapa hal pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang sangat keras
untuk melindungi pabrikan lokal dari barang-barang impor.
Produk-produk Konsumen. Walaupun
produk-produk konsumen pada umumnya menghendaki modifikasi lebih banyak untuk
memenuhi persyaratan pasar lokal daripada produk-produk industri, beberapa
diantaranya mungkin dapat dijual tanpa mengubahnya untuk pangsa pasar tertentu.
Pangsa pasar ini termasuk “jet set”, warga negara pendidikan luar negeri dan
yang banyak bepergian, serta para ekspatriat. Dalam memperkenalkan
produk-produk baru, khususnya ketika tujuannya adalah dengan segera menembus
pasar, para pemasar haruslah mengetahui bahwa pada umumnya, di saat
mereka berada pada strata ekonomi dan sosial di dalam tiap-tiap negara, mereka
cenderung akan menemukan banyak sekali ketidaksamaan di antara negara-negara
dari sudut nilai-nilai budaya dan sosial. Berdasarkan hal itu maka
semakin kuat keinginan untuk menembus pasar, semakin besar modifikasi produk
yang harus dilakukan.
Jasa-jasa. Pemasaran jasa-jasa,
kadang kala disebut tanwujud (intangible), serupa dengan memasarkan
produk-produk industrial dalam hal produk tersebut pada umumnya lebih mudah
untuk dipasarkan secara global daripada produk-produk konsumen. Ada beberapa
pasar di mana Departemen Tenaga Kerja tidak mampu untuk mengubah beroperasi di
dalamnya, misalnya karena di negara-negara tersebut, agen-agen tenaga kerja
swasta bertentangan dengan hukum. Undang-undang akuntansi sangat berbeda-beda
di antara berbagai bangsa, tetapi ada perusahaan-perusahaan akuntansi yang
besar yang beroperasi secara global. Visa (59 %), Master Card (33 %) , dan
American Express (8 %), dengan tagihan gabungan sebesar $1,7 triliun pada tahun
1996, adalah contoh-contoh perusahaan yang sukses dalam industri kartu kredit.
Kekuatan-kekuatan Lingkungan Luar Negeri. Kekuatan-kekuatan ini mempengaruhi penawaran-penawaran produk.
Kekuatan-kekuatan Sosial Budaya. Ketidakmiripan pola-pola kebudayaan pada umumnya mengharuskan
perubahan-perubahan dalam produk-produk makanan dan barang-barang konsumen
lainnya. Ketika beberapa perusahaan internasional, seperti Kodak dan
Campbell telah menjadi sangat sukses dalam menggunakan merek dagang, label dan
warna-warna yang sama di seluruh dunia, perusahaan-perusahaan lain kadangkala
terkejut karena mengetahui mereka harus mengubah nama-nama, label-label atau
warna-warna yang lainnya karena perbedaan-perbedaan kebudayaan. Bahkan jika
warna-warna tetap sama, instruksi pada label-label, tentu saja harus
diterjemahkan ke dalam bahasa dari pasar tersebut. Sebuah merek barang yang
sempurna mungkin harus dibatalkan sebab tidak menyenangkan konotasinya ke dalam
bahasa lain. Sebuah produk Amerika gagal dibuat di Swedia karena namanya
diterjemahkan menjadi “enema”. Kadangkala sebuah perusahaan tidak akan
menggunakan nama yang secara sempurna baik sebab seseorang telah mengetahui
cerita tentang ketidaklayakannya di pasar-pasar luar negeri. Inilah apa yang
terjadi dengan Nova. Seperti cerita yang beredar. Chevrolet tidak dapat menjual
Nova-nya di (si pencerita menggunakan sebuah kata-kata dari negara Spanyol)
sebab Nova dalam bahasa Spanyol berarti no va (“tidak jalan”).
Sambil lalu, sebuah kendala ekonomi terhadap suatu pembakuan internasional
terhadap nama merek adalah penolakan beberapa perusahaan untuk membiarkan
sebuah anak perusahaan meletakkan merek mereka pada produk buatan lokal jika
gagal memenuhi standar kualitas mereka disebabkan oleh ketidakmampuan mengimpor
bahan-bahan mentah yang diperlukan atau disebabkan oleh peralatan produksi yang
dibutuhkan tidak tersedia. Sebuah perbedaan penting dalam kekuatan-kekuatan
sosial di mana para pemasar Amerika tidak terbiasa adalah pilihan masyarakat di
negara-negara lain, baik maju maupun sedang berkembang, untuk melakukan
kunjungan harian ke toko-toko specialty kecil di lingkungan
dan pasar-pasar terbuka yang besar, pasar di mana mereka dapat bersosialisasi
sambil berbelanja.
Kekuatan-kekuatan Hukum. Kekuatan-kekuatan
hukum dapat menjadi suatu yang sangat mendesak dalam mendesain strategi produk
sebab jika perusahaan gagal untuk taat pada hukum-hukum suatu negara yang
mengatur produk tersebut, ia tidak akan dapat melakukan bisnis di negara itu.
Undang-undang yang melarang golongan-golongan impor tertentu sangat lazim di
negara-negara berkembang, seperti yang diketahui para eksportir potensial
ketika meneliti pasar-pasar di dunia. Kita mengetahui bahwa produk-produk yang
dianggap mewah, serta produk-produk yang telah dipabrikasi, adalah di antara
yang pertama untuk dikeluarkan dari pengimporan, tetapi undang-undang demikian
juga berlaku untuk produksi lokal. Kekuatan-kekuatan hukum juga bisa mencegah
sebuah perusahaan dunia menggunakan mereknya di semua pasarnya di luar negeri.
Kekuatan-kekuatan Ekonomi. Disparitas besar dalam pendapatan di seluruh dunia adalah suatu
hambatan penting terhadap standarisasi produk untuk seluruh dunia. Banyak
produk dari negara-negara industri hanya terlalu mahal bagi para konsumen di
negara-negara berkembang, sehingga jika perusahaan ingin mencapai penestrasi
pasar, ia harus menyederhanakan produk itu atau memproduksi suatu produk yang
berbeda dan lebih murah. Kekuatan-kekuatan ekonomi harus mempengaruhi
standarisasi produk dalam cara lain. Perekonomian-perekonomian menunjukkan
prasarana yang buruk-jalan-jalan jelek, kurang cukupnya tenaga listrik, dan
seterusnya. Kurang teraturnya pasokan listrik, sebuah ciri lain dari banyak
negara miskin, telah mendorong para pabrikan lemari es untuk memasok produk
yang dijalankan dengan bensin dan perusahaan-perusahaan perlengkapan kantor
untuk mempabrikasi mesin-mesin yang dioperasikan dengan tangan. Ukuran pasar
mempengaruhi bauran produk dan di negara-negara miskin, penduduk seringkali
tidak hanya lebih kecil jumlahya, tetapi juga mengandung sejumlah besar orang
yang tidak punya alat untuk membeli sesuatu tetapi keperluan-keperluan hidup
seadanya, dengan demikian membuat pasar yang telah kecil itu bahkan menjadi
lebih kecil lagi. Ini berarti bahwa biasanya anak-anak perusahaan di luar
negeri tidak mampu memproduksi suatu bauran produk selengkap induknya.
Kekuatan-kekuatan Fisik. Kekuatan-kekuatan
fisik, seperti iklim dan tanah lapang, juga bertempur terhadap standarisasi
produk internasional. Di mana panasnya terik, mesin-mesin atau mobil bertenaga
bensin harus disesuaikan dengan radiator untuk kapasitas pendingin ekstra.
Bensin harus mempunyai titik nyala yang lebih tinggi untuk mencegah kemacetan
uap dan mogok.
Strategi-strategi Promosi
Promosi, salah satu elemen
bauran pemasaran dasar, ialah komunikasi yang menjamin pengertian antara sebuah
perusahaan dan publik-publiknya untuk menimbulkan tindakan pembelian yang
diharapkan dan mencapai suatu kepercayaan tahan lama terhadap perusahaan itu
dan produk atau jasa yang disediakannya. Karena promosi mempengaruhi maupun
dipengaruhi oleh variabel-variabel bauran pemasaran lain, adalah mungkin
merumuskan sembilan strategi yang berbeda dengan menggabungkan tiga alternatif
(1) memasarkan produk fisik yang sama di mana-mana, (2) menyesuaikan produk
fisik untuk pasar-pasar di luar negeri, dan (3) mendesain suatu produk fisik
yang berbeda dengan pesan-pesan yang (a) sama (b) disesuaikan, atau (c)
berbeda. Dibawah ini adalah enam strategi yang paling umum digunakan:
1. Produk sama-pesan sama. Ketika para
pemasar menemukan pasar-pasar sasaran sedikit berbeda mengenai produk yang
digunakan dan sikap konsumen, mereka dapat memasarkan produk yang sama dan
menggunakan imbauan promosi yang sama di semua pasar.
2. Produk sama-pesan berbeda. Produk
yang sama bisa memuaskan kebutuhan yang berbeda atau digunakan secara berbeda
di tempat lain. Ini berarti produk itu mungkin dibiarkan tidak berubah tetapi
suatu pesan yang berbeda digunakan.
3. Adaptasi produk-pesan sama. Dalam
hal di mana produk itu melayani fungsi yang sama tetapi harus disesuaikan
dengan kondisi yang berbeda, pesan yang sama digunakan untuk produk yang
diubah.
4. Adaptasi produk-adaptasi pesan. Dalam
beberapa kasus, baik produk maupun pesan promosi harus dimodifikasi untuk
pasar-pasar di luar negeri. Di Amerika Latin, Tang dibuat manis, pra-campur dan
siap diminum secara khusus di dalam kantong-kantong.
5. Produk berbeda-pesan sama. Seperti
kita kemukakan dalam pembahasan kita mengenai pengaruh kekuatan-kekuatan
ekonomi atas strategi-strategi produk, para pelanggan potensial di banyak pasar
tidak dapat menjangkau produk seperti yang dipabrikasi di negara asal
perusahaan itu. Produk tersebut mungkin juga terlalu maju secara teknologi
untuk memperoleh penerimaan yang luas. Untuk mengatasi hambatan ini, banyak
perusahaan sering kali telah memproduksi produk yang sangat berbeda untuk
pasar-pasar ini.
6. Produk berbeda untuk pemakaian yang sama- pesan berbeda. Acap kali produk yang berbeda memerlukan pesan yang berbeda
pula. Obor-obor las, bukannya mesin las otomatis akan dijual berdasarkan biaya
akuisisi ketimbang keluaran tinggi per jam buruh.
Alat-alat untuk
mengkomunikasikan pesan-pesan ini - bauran promosi adalah periklanan, penjualan
tatap muka, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas. Persis
seperti dalam penentuan strategi-strategi produk, komposisi bauran promosi itu
akan bergantung pada jenis produk, kekuatan-kekuatan lingkungan, dan jumlah
penestrasi pasar yang diinginkan.
Periklanan. Dari semua unsur
bauran promosi periklanan adalah salah satu yang memiliki
persamaan paling besar di seluruh dunia. Ini disebabkan agen-agen periklanan
telah mengikuti strategi ekspansi internasional yang sama yang diikuti oleh
banyak pemasar produk-produk tanwujud (intangible) yang ingin bergerak
dengan cepat ke dalam pasar-pasar luar negeri; mereka telah membeli
perusahaan-perusahaan internasional dengan operasi multinasional.
Merek-merek Global dan Regional. Para
pabrikan semakin banyak yang menggunakan merek-merek global atau regional
dengan sejumlah alasan:
1. Biaya paling sering disebut. Dengan memproduksi sebuah iklan TV
untuk digunakan di seluruh wilayah, sebuah perusahaan dapat menghemat sampai 50
% dalam biaya produksi.
2. Ada kesempatan yang lebih baik untuk memperoleh sebuah sumber
regional untuk melakukan pekerjaan berkualitas tinggi daripada mencari
sumber-sumber di berbagai negara yang akan bekerja dengan standar yang sama
tingginya.
3. Sebagian manajer pemasaran yakin perusahaan mereka harus memiliki
citra tunggal di seluruh kawasan.
4. Perusahaan-perusahaan yang membentuk organisasi regional di mana
banyak fungsi seperti pemasaran disentralisasikan.
5. Televisi satelit dan kabel global dan regional semakin banyak
tersedia.
Economies of scale adalah satu alasan
beberapa perusahaan menekankan pada standarisasi periklanan regional atau
global. Coca-Cola misalnya, memperkirakan telah menghemat lebih dari $8 juta
setahunnya dalam biaya memikirkan pencitraan baru dengan mengulangi tema yang
sama di mana-mana. Pemberian merek global adalah suatu cara mengatakan
perusahaan Anda membuat suatu perbedaan, yang mendorong pesanan bertimbun.
Global atau Nasional. Meskipun
terdapat kecenderungan untuk menggunakan lebih banyak merek-merek global, suatu
perdebatan terus berlangsung di antara para pemasar internasional tentang
penggunaan merek-merek global, regional atau nasional.
Merek-merek Pribadi. Merek-merek
pribadi telah menjadi pesaing-pesaing yang demikian serius bagi merek-merek
para pabrikan sehingga bertanggung jawab atas beralihnya kekuatan dari pabrikan
ke pengecer. Di Jepang rantai pasar swalayan besar, seperti kelompok Daiei yang
memiliki lebih dari 6.000 outlet, menyediakan makanan, barang-barang keperluan
rumah tangga dan pakaian dengan merek pribadi.
Tersedianya Media. Para pemancar TV satelit
memungkinkan banyak jaringan acara untuk memberikan pelayanan kepada jutaan
rumah tangga di lusinan negara. Program-program siaran Star TV, TVB, dan ABN
dalam bahasa Cina dan Inggris dan juga membawa jaringan-jaringan kabel seperti
Turner, ESPN dan HBO yang mencapai tiga miliar orang di Asia. Salah satu di
antara jaringan pemograman besar yang menggunakan siaran TV satelit adalah CNN,
yang menjangkau 78 juta rumah tangga di lebih dari 100 negara. MTV menghitung
pemirsanya adalah 210 juta orang di 78 negara. Juga terdapat lebih banyak media
cetak internasional yang tersedia. The European, sebuah surat kabar
harian; edisi internasional dari The Herald Tribune; edisi-edisi
Asia dan Eropa dari The Wall Street Journal; dan edisi-edisi
internasional dari Manchester Guardian serta Financial
Times adalah beberapa surat kabar dengan sirkulasi yang luas.
Persoalannya adalah bahwa media apa pun jenisnya tersedia di setiap negara, dan
para manajer lokal dan agen-agen periklanan sangat memahami keunggulan
masing-masing jenis itu. Pemilihan media sangat sulit untuk para manajer
periklanan internasional yang mencoba membakukan bauran media mereka dari kantor
induk.
Jenis produk. Para pembeli
barang-barang industrial dan produk-produk mewah biasanya bertindak dengan
motif yang sama di dunia; dengan demikian produk-produk ini meminjamkan kepada
diri mereka sendiri untuk pendekatan baku. Hal ini memungkinkan para pabrikan
barang-barang modal, seperti General Electric dan Caterpillar, untuk
mempersiapkan kampanye internasional yang memerlukan sedikit sekali modifikasi
di berbagai pasar.
Kekuatan-kekuatan Lingkungan Luar Negeri. Seperti berbagai variasi dalam media yang tersedia,
kekuatan-kekuatan lingkungan luar negeri bertindak sebagai penghambat terhadap
standarisasi periklanan internasional, dan seperti yang Anda duga, di antara
yang paling berpengaruh dari kekuatan-kekuatan ini adalah kekuatan-kekuatan sosial
budaya. Suatu keputusan pokok bagi pemasar ialah apakah akan memposisikan
produk sebagai luar negeri atau lokal, dan cara yang mana yang akan diambil
tampaknya bergantung pada negara, jenis produk, dan pasar sasaran. Di Jerman
misalnya, para konsumen sama sekali tidak terkesan oleh pabrik mobil yang
mengumumkan ia memiliki keahlian orang Amerika. Hukum suatu negara umumnya
mencerminkan pendapat publik, yang sangat terkait dengan kekuatan-kekuatan
budaya adalah kekuatan-kekuatan hukum, yang berusaha memakai pengaruh yang
sangat menembus atas periklanan.
Globalisasi Versus Lokalisasi. Dengan
begitu banyak hambatan terhadap standarisasi, pendekatan apa sebaiknya yang
digunakan oleh manajer periklanan internasional? Pendapat sebagian ahli
tampaknya adalah merupakan gagasan bagus dan promosi-promosi yang bagus dapat
melintasi perbatasan internasional.
Tidak Ada yang Global Murni atau Lokal Murni. Untuk sebagian besar perusahaan tidak ada suatu kampanye
yang global murni atau lokal murni merupakan cara terbaik untuk menangani
periklanan internasional.
Pendekatan Panregional Gillette. Gillette
mempunyai periklannya yang diorganisasikan di dalam kelompok-kelompok regional
dan kultural berikut ini: Pan Latin Amerika, Pan Timur Tengah, Pan Afrika, dan
Pan Atlantik. Gillette yang menjual 800 produk di 200 negara, sedang mencoba
untuk mendekati strategi pemasaran global dengan strategi panregional sementara
membiarkan adanya perbedaan-perbedaan nasional dan regional.
Pendekatan Manajemen Terprogram. Strategi
periklanan menengah ke bawah lainnya adalah apa yang disebut sebagian
orang pendekatan manajemen terprogram (programmed
management approach), di mana kantor induk dan anak-anak perusahaan di luar
negeri sepakat mengenai sasaran-sasaran pemasaran, setelah masing-masing
meletakkan bersama-sama kampanye periklanan tentatif. Ini diserahkan ke kantor
induk untuk ditinjau dan diberi saran-saran. Pendekatan manajemen terprogram
itu memberikan kepada kantor induk kesempatan untuk membakukan bagian-bagian
dari kampanye itu yang dapat distandarisasikan tetapi masih memperkenankan
fleksibilitas dalam merespon kondisi-kondisi pemasaran yang berbeda.
Penjualan Tatap Muka. Bersama-sama
dengan periklanan, penjualan tatap muka (personal selling) merupakan
komponen penting dari bauran promosi. Pentingnya alat promosi ini dibandingkan
dengan periklanan sangat bergantung pada biaya relatif, dana yang tersedia,
ketersediaan media, dan jenis produk yang dijual.
Standarisasi Internasional. Pada
umumnya, organisasi sebuah tenaga penjualan di luar negeri, presentasi
penjualan dan metode-metode pelatihan adalah sangat mirip dengan yang digunakan
di negara asal. Perusahaan-perusahaan Amerika lain telah menggunakan pendekatan
ini dan gagal karena alasan-alasan tadi. Karena tingginya biaya kunjungan
penjualan, banyak perusahaan menggunakan pemasaran jarak jauh (telemarketing)
dan melalui pos (direct mail) untuk calon-calon pembeli yang memenuhi
syarat dan membuat janji-janji untuk wakil-wakil penjualan.
Rekrutmen. Contoh dari
pengaruh kekuatan-kekuatan budaya atas perekrutan ialah perlunya menggaji
tenaga-tenaga penjualan yang secara budaya dapat diterima oleh para pelanggan
dan anggota-anggota saluran.
Promosi Penjualan. Promosi penjualan
memberikan bantuan penjualan bagi fungsi pemasaran dan mencakup
kegiatan-kegiatan seperti persiapan pajangan di tempat penjualan,
kontes-kontes, pemberian premi, pameran dagang, penawaran dengan diskon dan
kupon-kupon. Standarisasi internasional dari fungsi promosi penjualan tidaklah
sulit, karena pengalaman menunjukkan bahwa apa yang berhasil di Amerika Serikat
pada umumnya terbukti efektif di luar negeri. Pemberian sebuah kupon adalah
sebuah contoh yang baik. Ketika para pemasar mempertimbangkan mentransfer untuk
teknik-teknik promosi penjualan ke pasar-pasar lain, mereka harus
mempertimbangkan beberapa kendala budaya dan hukum.
Kendala-kendala Hukum. Hukum
mengenai promosi penjualan cenderung lebih bersifat menghambat di negara-negara
lain daripada di Amerika Serikat atau Inggris. Walaupun hambatan-hambatan hukum
ini menyusahkan, tetapi belum menghentikan pemakaian promosi penjualan.
Kendala-kendala Sosial Budaya dan Ekonomi. Kendala-kendala ekonomi dari budaya adalah lebih berakibat
daripada kendala-kendala hukum dan memang membuat beberapa promosi penjualan
sulit digunakan. Jika premi untuk memenuhi sasaran sebagai bantuan penjualan
untuk produk, ia harus berarti bagi pembeli. Manajer pemasaran yang
mempersiapkan program yang terencana baik setelah mempelajari kendala-kendala
dari pasar-pasar lokal dapat mengharapkan hasil yang sangat baik dari waktu dan
uang yang ditanamkan.
Dua promosi yang tidak berhasil. Pada tahun-tahun terakhir terdapat dua contoh promosi penjualan
terkenal dan mahal yang keliru: Hoover di Inggris dan Pepsi- Cola di Filipina.
Hubungan masyarakat. Hubungan
masyarakat adalah komunikasi dan hubungan perusahaan dengan berbagai publiknya,
termasuk pemerintah di mana ia beroperasi, atau seperti yang tertulis seorang
penulis, “hubungan masyarakat adalah pemasaran perusahaan.” Ironisnya adalah
sama sekali tidak benar bahwa mereka telah mengabaikan kegiatan-kegiatan
pelayanan publik melalui anak-anak perusahaannya di luar negeri- mereka hanya
tidak berhasil menginformasikan kepada publiknya mengenai apa yang mereka
lakukan. Meningkatnya gelombang nasionalisme dan perasaan anti multinasional di
banyak negara telah membuatnya penting bagi perusahaan-perusahaan dengan
operasi internasional untuk meningkatkan komunikasinya dengan publik-publik
non-bisnis mereka dengan program-program hubungan masyarakat yang lebih
efektif. Salah satu di antara permasalahan yang paling menjengkelkan bagi
perusahaan-perusahaan ialah bagaimana menangani para pengecam operasi dan motif
mereka. Sebuah strategi sukses yang digunakan oleh beberapa perusahaan adalah
menanggapi isu tersebut tanpa berhubungan langsung dengan para pengkritik.
Alternatif lain adalah tidak melakukan apa-apa. Jika kritikan itu tidak
mendapat publisitas, ia bisa mati karena tidak diminati.
Strategi-strategi Penetapan Harga
Penetapan harga, unsur ketiga dari bauran pemasaran adalah
pertimbangan yang penting dan rumit dalam merumuskan strategi pemasaran.
Keputusan-keputusan harga mempengaruhi fungsi-fungsi perusahaan yang lain,
menentukan secara langsung penerimaan kotor perusahaan, dan merupakan penentu
utama dari laba.
Penetapan Harga, sebuah Variabel yang Dapat Dikendalikan. Sebagian besar pemasar, khususnya orang Amerika, menyadari
bahwa penetapan harga yang efektif terdiri atas lebih dari sekadar menambahkan
suatu markup standar kepada biaya. Untuk memperoleh manfaat
maksimal dari penetapan harga, manajemen harus menganggapnya dengan cara yang
sama seperti memperlakukan variabel-variabel yang dapat dikendalikan lainnya;
yaitu, penetapan harga adalah salah satu unsur bauran pemasaran yang dapat
bervariasi untuk mencapai sasaran-sasaran pemasaran perusahaan. Selain itu, dua
perangkat kekuatan lain mempengaruhi variabel ini: (1) interaksi antara
pemasaran dan bidang-bidang fungsional perusahaan dan (2) kekuatan-kekuatan
lingkungan.
Interaksi antara Pemasaran dan Bidang-bidang Fungsional Lain. Untuk memberikan ilustrasi mengenai hal ini, perhatikan
hal-hal berikut:
1. Orang-orang keuangan menginginkan harga-harga yang menguntungkan
maupun kondusif terhadap aliran kas yang mantap.
2. Para penyelia produksi menginginkan harga-harga yang menciptakan
volume penjualan besar, yang memungkinkan berjalannya produksi yang lama.
3. Departemen hukum mengkhawatirkan tentang kemungkinan
pelanggaran anti-trust ketika harga-harga yang berbeda
ditetapkan menurut jenis pelanggan.
4. Orang-orang pajak menaruh perhatian terhadap pengaruh harga-harga
atas beban pajak.
5. Manajer penjualan domestik menginginkan harga-harga ekspor cukup
tinggi untuk menghindari keharusan bersaing dengan produk-produk perusahaan
yang dibeli untuk ekspor dan kemudian dialihkan ke pasar domestik (sebuah aspek
impor paralel).
Standarisasi Internasional. Penetapan harga untuk pasar-pasar luar negeri adalah lebih
kompleks karena manajemen harus memperhatikan dua jenis penetapan harga
(1) penetapan harga nasional luar negeri, yang merupakan penetapan
harga domestik di sebuah negara lain, dan (2) penetapan harga internasional
untuk ekspor.
Penetapan Harga Nasional Luar Negeri. Banyak pemerintah asing di dalam usahanya memerangi inflasi
telah mengadakan pengendalian harga, dan kisaran produk-produk telah
mempengaruhi perbedaan yang luar biasa dari suatu negara ke negara lainnya.
Beberapa pemerintah berusaha untuk menetapkan harga atas hampir segala sesuatu,
sementara yang lainnya hanya menaruh perhatian pada barang-barang pokok.
Harga-harga dapat bervariasi karena perbedaan-perbedaan biaya yang tampak pada
sisi-sisi berbatasan yang berlawanan. Dengan berkurangnya hambatan-hambatan
perdagangan di antara para anggota kelompok-kelompok ekonomi regional,
peluang-peluang demikian menjadi lebih sedikit karena perusahaan-perusahaan
harus menghadapi persaingan regional maupun lokal. Suatu hal yang tidak dapat
dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Eropa adalah kesepakatan untuk menetapkan
harga di dalam usaha membatasi persaingan.
Penetapan Harga Internasional. Penetapan
harga internasional menyangkut penetapan harga-harga untuk barang-barang yang
diproduksi di sebuah negara dan dijual di negara lain. Manipulasi harga-harga transfer
untuk mengurangi pajak pendapatan dan bea-bea masuk atau menghindari
pengendalian kurs telah menyebabkan banyak pemerintah menerapkan arm’s
length prices-yaitu harga-harga yang dibebankan kepada pelanggan yang tidak
terkait.
Strategi-strategi Distribusi
Perkembangan-perkembangan strategi-strategi distribusi adalah
sulit di negara asal, tetapi bahkan lebih sulit secara internasional, di mana
para manajer pemasaran harus memusatkan perhatian mereka terhadap dua fungsi,
bukannya satu yaitu: (1) menempatkan produk-produk ke pasar-pasar di
luar negeri (mengekspor) dan (2) mendistribusikan produk-produk itu di
dalam tiap-tiap pasar (distribusi luar negeri).
Independensi Keputusan-keputusan Distribusi. Dalam mengambil keputusan-keputusan mengenai distribusi, perlu
kehati-hatian dalam menganalisis interpendensinya dengan variabel-variabel
bauran pemasaran yang lain.
Standarisasi Internasional. Walaupun
manajemen lebih menyukai untuk melakukan standarisasi pola-pola distribusi secara
internasional, terdapat dua kendala pokok tentang melakukannya: (1) variasi
dalam kesediaan anggota-anggota saluran di antara pasar-pasar perusahaan, dan
(2) inkonsistensi dari pengaruh kekuatan-kekuatan lingkungan.
Ketersediaan Anggota-anggota Saluran. Sebagai suatu titik awal dalam mendesain saluran, para
manajer lokal memiliki sistem distribusi yang sukses yang digunakan dalam
operasi domestik. Meskipun ketentuan umum untuk sesuatu perusahaan yang
memasuki pasar di luar negeri ialah untuk menyesuaikan ketersediaan saluran
daripada menciptakan saluran-saluran baru, sejumlah perusahaan telah
menghindari saluran-saluran tradisional dengan berhasil karena inefesiensi yang
sangat besar. Para pemasar yang berpengalaman mengetahui mereka tidak dapat menyampaikan
produk-produk mereka kepada pelanggan dengan saluran eceren yang sama di setiap
negara, dan bahkan di Eropa perbedaan-perbedaannya cukup besar.
Kekuatan-kekuatan Lingkungan Luar Negeri. Perbedaan-perbedaan lingkungan di antara pasar-pasar menambahkan
kesulitan di dalam menstandarisasikan saluran-saluran distribusi.
Perubahan-perubahan yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan budaya umumnya
selalu terjadi, tetapi yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan hukum dapat
berupa kecenderungan-kecenderungan yang cepat dan radikal serta dapat sangat
lambat merespons permintaan-permintaan yang bersifat budaya. Sebagai gambaran,
hypermarket yang merupakan pola distribusi yang sedang berubah di Eropa
khususnya di Prancis, sebuah bangsa penjaga toko-toko kecil, hanya menunjukkan
angka 11 di dalam negara itu pada tahun 1972. Kombinasi harga-harga yang rendah
dan perbelanjaan satu atap menjadi populer bagi konsumen Prancis dan 51
hypermarket telah dibuka pada tahun 1973. Para pabrikan yang melihat akhir yang
cepat kepada toko-toko kecil gagal memahami kekuatan politik mereka. Royer Law
(undang-undang Royer), yang disahkan tahun 1973, memberikan kepada
komisi-komisi kota, yang sering kali didominasi oleh pedagang-pedagang kecil,
kekuasaan untuk menolak konstruksi yang memungkinkan bagi supermarket dan
hypermarket. Setelah undang-undang tersebut berlaku, hanya 40 % dari permohonan
toko besar yang disetujui. Perbedaan-perbedaan ekonomi juga
membuat standarisasi internasional sulit, meskipun para pemasar dapat
menyesuaikan dengan perubahan-perubahan ekonomi.
Pemilihan Saluran
Pemasaran Langsung atau Tidak Langsung. Keputusan pertama yang harus diambil manajemen adalah apakah akan
menggunakan perantara, karena manajemen sering mempunyai pilihan memasarkan
langsung kepada pengguna akhir. Jenis-jenis produk-produk industrial dan
barang-barang konsumen lain dipasarkan secara tidak langsung.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Saluran. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan saluran-saluran
pasar mungkin digolongkan sebagai karakteristik pasar, produk, perusahaan, dan
perantara.
Karakteristik Pasar. Karena alasan
untuk menggunakan saluran ialah untuk memungkinkan pabrikan mencapai
pasar-pasar targetnya, tempat yang jelas untuk memulai dalam pemilihan saluran
adalah pada pasar-pasar itu. Karena perbedaan dalam pasar-pasar target,
perusahaan akan besar kemungkinannya menghendaki saluran-saluran ganda.
Karakteristik Produk. Produk
yang berdaya rendah dijual dalam jumlah-jumlah kecil per transaksi umumnya
memerlukan saluran yang panjang, tetapi apabila barang-barang itu mudah rusak,
saluran yang pendek lebih disukai.
Karakteristik Perusahaan. Sebuah perusahaan
yang memiliki keuangan dan sumber-sumber manajerial yang memadai berada dalam
posisi yang jauh lebih baik untuk menggunakan tenaga-tenaga penjualan atau agen-agennya
sendiri daripada perusahaan yang memiliki kekurangan dalam bidang ini. Sebuah
perusahaan yang secara finansial lemah harus menggunakan perantara yang
mengambil hak dan membayar untuk barang-barang itu. Bila manajemen tidak
berpengalaman dalam menjual ke pasar-pasar tertentu, ia harus menggunakan
perantara yang telah memiliki pengalaman itu.
Karakteristik Perantara. Apabila perusahaan
tidak dapat melaksanakan fungsi-fungsi ini atau menganggap keuntungan biaya
dengan tidak melaksanakannya, ia harus memilih perantara yang akan memberikan
layanan, pergudangan, dan mempromosikan produk-produk itu. Mungkin juga tidak
ada anggota-anggota saluran yang tersedia untuk menjangkau pasar-pasar sasaran
perusahaan dan melaksanakan fungsi-fungsi yang diinginkan. Jika tidak ada,
manajemen harus memutuskan untuk (1) berhenti memasuki pasar itu, (2) memiliki
pasar-pasar sasaran yang lain, atau (3) menciptakan saluran baru.
Persyaratan Hukum. Karena persyaratan
hukum untuk menghentikan perantara berbeda-beda dari satu negara ke negara
lainnya, waktu untuk memikirkan bagaimana mengakhiri sebuah perjanjian adalah
sebelum perjanjian itu dibuat. Meskipun kebanyakan tidak memiliki undang-undang
khusus yang menghukum atau menghalangi pengakhiran sebuah persetujuan di antara
pabrikan dan perantara, sebagian memilikinya.
Sumber-sumber Informasi
Berbagai sumber akan memberikan informasi tentang saluran
distribusi. Departemen Perdagangan AS, bank, agensi kredit dan kamar dagang
Amerika di kota-kota di luar negeri semuanya baik.
Kekuatan-kekuatan Lingkungan Luar Negeri dan Matrik Bauran
Pemasaran.
Faktor-faktor yang membatasi standarisasi produk:
1. Kekuatan-kekuatan fisik
2. Kekuatan-kekuatan sosial budaya
3. Kekuatan-kekuatan politik dan hukum
4. Kekuatan-kekuatan ekonomi
5. Kekuatan-kekuatan kompetitif
6. Kekuatan-kekuatan distributive


Tidak ada komentar:
Posting Komentar