POSISI STRATEGIS SUB SEKTOR JASA PERUSAHAAN
9.1 Pemasaran Jasa
Jasa
yang berbeda dengan good (produk) secara kasat mata (tidak dapat dilihat)
menimbulkan berbagai permasalahan dalam mengembangkan strategi pemasaran.
Seperti yang dikemukakan oleh Kotler,
bahwa jasa merupakan setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh
satu pihak kepada pihak lain, pada dasarnya tidak berwujud dan tidak
mengakibatkan kepemilikan apapun.
9.2 Karakteristik Pemasaran Jasa
Karakteristik
unik yang dimiliki oleh jasa memiliki esensi utama yaitu perlunya keterlibatan
secara langsung karyawan dalam delivery
process, sehingga karyawan menjadi ujung tombak keberhasilan jasa. Tetapi
dengan perkembangan teknologi ketergantungan terhadap karyawan dapat
dieliminasi dan direct customer contact yang sangat costly dapat dikurangi.
Misalnya: bisnis perbankan pada saat ini menggunakan ATM (Anjungan Tunai
Mandiri) untuk membantu konsumen melakukan self
service berbagai keperluan yang berkaitan dengan keuangan mereka.
Ada
enam karakteristik jasa yang perlu diperhatikan oleh penyedia jasa yaitu:
1. Intangibility
(tidak nampak)
Karakteristik
jasa yang paling jelas adalah tidak berwujud. Pada produk, kita bisa melihat
dan merasakan bentuk dari produk, melihat contoh produk dan menilai kecocokannya.
Berbeda dengan jasa, dimana kita harus melewati suatu customer experience terlebih dahulu sebelum mengevaluasi jasa
tersebut.
Intangibility
ini memunculkan beberapa masalah yakni tidak dapat disimpan sebagai persediaan,
dan tidak bisa dengan mudah dikomunikasikan kepada pelanggan. Harga juga jadi
masalah, karena ini tergantung pada persepsi tiap orang.
Untuk mengatasi intangibility ini, maka kita dapat menggunakan physical evidence, atau yang kita kenal merupakan salah satu elemen dari 7P marketing mix, adalah penampilan fisik dari tempat serta pelaku jasa. Misalnya, interior yang menarik dari sebuah restoran, hingga seragam dari pelayannya.
Lalu kesulitan dalam mengkomunikasikan jasa dapat diatasi dengan menciptakan image yang kuat mengenai brand. Jika berhasil menciptakan image kuat, maka orang akan cenderung lebih percaya terhadap pelayanan yang diberikan.
Selain itu, kebijakan pricing juga bisa menjadi salah satu indicator akan kualitas. Biasanya, dengan harga premium tentunya kualitas pelayanan juga lebih tinggi sementara harga yang rendah mengindikasikan kualitas yang belum pasti, atau memang kurangnya pengalaman.
Namun, intangibility dari suatu jasa terutama terletak pada interaksi, tingkat perhatian, dan keramahan dari pemberi jasa kepada pelanggan. Oleh karena itu, sisi membina hubungan yang baik dengan pelanggan menjadi suatu tugas yang penting.
Untuk mengatasi intangibility ini, maka kita dapat menggunakan physical evidence, atau yang kita kenal merupakan salah satu elemen dari 7P marketing mix, adalah penampilan fisik dari tempat serta pelaku jasa. Misalnya, interior yang menarik dari sebuah restoran, hingga seragam dari pelayannya.
Lalu kesulitan dalam mengkomunikasikan jasa dapat diatasi dengan menciptakan image yang kuat mengenai brand. Jika berhasil menciptakan image kuat, maka orang akan cenderung lebih percaya terhadap pelayanan yang diberikan.
Selain itu, kebijakan pricing juga bisa menjadi salah satu indicator akan kualitas. Biasanya, dengan harga premium tentunya kualitas pelayanan juga lebih tinggi sementara harga yang rendah mengindikasikan kualitas yang belum pasti, atau memang kurangnya pengalaman.
Namun, intangibility dari suatu jasa terutama terletak pada interaksi, tingkat perhatian, dan keramahan dari pemberi jasa kepada pelanggan. Oleh karena itu, sisi membina hubungan yang baik dengan pelanggan menjadi suatu tugas yang penting.
2. Perishability
(tidak dapat disimpan)
Jasa
tidak dapat disimpan, seperti barang, jasa langsung habis sesaat setelah
penyampaian jasa, sehingga jasa tidak dapat dijual lagi atau dikembalikan atau
dengan kata lain jasa diproduksi dan dikonsumsi pada saat itu juga.
3. Heteroginity
(bervariasi)
Banyak
variasi bentuk, kualitas dan jenis, tergantung pada siapa, kapan, dan dimana
jasa tersebut dihasilkan, sehingga tidak ada output penyampaian jasa yang persis sama, dari produsen ke
produsen, dari konsumen ke konsumen, dari waktu ke waktu.
4. Inseparability
(tidak dapat dipisahkan antara produksi dan konsumsi)
Perusahaan,
biasanya memproduksi barang pada satu lokasi pusat, kemudian mengirimnya ke
tempat dimana pelanggannya paling banyak. Selain itu, inseparability juga berarti bahwa produksi jasa tidak dapat
terpisahkan dengan konsumsinya. Sehingga, dalam kata lain, pelanggan juga ikut
terlibat dalam proses produksi suatu jasa. Sehingga, penyedia jasa perlu untuk
mengelola proses produksi jasanya dengan baik supaya menghasilkan kualitas dan
nilai yang diinginkan.
Selagi pelanggan memberikan pelayanan, jika pada saat itu terdapat pelanggan lain yang ikut menyaksikan, maka otomatis pelanggan tersebut juga terlibat dalam proses produksi, karena itu menjadi suatu shared experience untuknya. Misalnya, jika seorang pelanggan yang sedang menunggu makanannya melihat bahwa pelanggan lain mengkomplain bahwa ia menemukan kecoa dalam makanannya, maka itu akan menjadi pengalaman yang tidak mengenakkan bagi pelanggan lainnya.
Masalah yang timbul dari inseparability menjadikan kita harus mengadopsi berbagai strategi sebagai berikut:
1) Rekrut dan latih karyawan dengan baik, supaya mereka bisa memberikan pelayanan sesuai dengan yang diharapkan;
2) Kembangkan strategi-strategi untuk mengelola pelanggan, misalnya seperti memberlakukan sistem reservasi dan home delivery;
3) Membuka lebih dari satu lokasi, sehingga lebih memperluas basis pelanggan yang ingin menikmati pelayanan Anda.
Dalam menentukan bentuk dari pelayanan maupun kebijakan harga terkait dengan masalah inseparability, maka terlebih dahulu harus diidentifikasi sejauh mana level personalisasi yang dibutuhkan pelanggan serta dilakukan perusahaan. Misalnya, untuk pelanggan preferred banking maka lebih membutuhkan personalization, dibandingkan dengan nasabah biasa, yang mungkin cukup dengan menggunakan ATM atau online banking saja.
Selagi pelanggan memberikan pelayanan, jika pada saat itu terdapat pelanggan lain yang ikut menyaksikan, maka otomatis pelanggan tersebut juga terlibat dalam proses produksi, karena itu menjadi suatu shared experience untuknya. Misalnya, jika seorang pelanggan yang sedang menunggu makanannya melihat bahwa pelanggan lain mengkomplain bahwa ia menemukan kecoa dalam makanannya, maka itu akan menjadi pengalaman yang tidak mengenakkan bagi pelanggan lainnya.
Masalah yang timbul dari inseparability menjadikan kita harus mengadopsi berbagai strategi sebagai berikut:
1) Rekrut dan latih karyawan dengan baik, supaya mereka bisa memberikan pelayanan sesuai dengan yang diharapkan;
2) Kembangkan strategi-strategi untuk mengelola pelanggan, misalnya seperti memberlakukan sistem reservasi dan home delivery;
3) Membuka lebih dari satu lokasi, sehingga lebih memperluas basis pelanggan yang ingin menikmati pelayanan Anda.
Dalam menentukan bentuk dari pelayanan maupun kebijakan harga terkait dengan masalah inseparability, maka terlebih dahulu harus diidentifikasi sejauh mana level personalisasi yang dibutuhkan pelanggan serta dilakukan perusahaan. Misalnya, untuk pelanggan preferred banking maka lebih membutuhkan personalization, dibandingkan dengan nasabah biasa, yang mungkin cukup dengan menggunakan ATM atau online banking saja.
5. People
Based (sangat tergantung pada kinerja karyawan)
Jasa
yang berdasarkan pada people based service merupakan jasa yang melibatkan
peranan manusia dalam proses produksinya sehingga sulit untuk dilakukan
standarisasi.
6. Contact
Customer (hubungan dengan konsumen secara langsung).
9.3 Perilaku Pelanggan dalam Jasa
Keputusan
konsumen memilih atau membeli jasa sangat tergantung pada bagaimana penyedia
jasa dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh dalam setiap tahapan
proses keputusan konsumen. Proses keputusan konsumen tidaklah sesederhana yang
dibayangkan, tetapi melalui berbagai tahapan yang dimulai dari pengenalan
kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan
keputusan sesudah pembelian.
Adapun
pendekatan dalam meneliti perilaku konsumen, terdapat tiga pendekatan utama
dalam meneliti perilaku konsumen.
Pendekatan
pertama adalah pendekatan interpretif. Pendekatan ini
menggali secara mendalam perilaku konsumsi dan hal yang mendasarinya. Studi
dilakukan dengan melalui wawancara panjang dan focus group discussion
untuk memahami apa makna sebuah produk dan jasa bagi konsumen dan apa yang dirasakan dan dialami konsumen ketika
membeli dan menggunakannya.
Pendekatan kedua
adalah pendekatan tradisional yang didasari pada teori dan metode dari ilmu psikologi kognitif, sosial, dan behaviorial serta dari ilmu sosiologi. Pendekatan ini bertujuan mengembangkan teori dan metode untuk
menjelaskan perliku dan pembuatan keputusan konsumen. Studi dilakukan melalui
eksperimen dan survey untuk menguji coba teori dan mencari pemahaman tentang
bagaimana seorang konsumen memproses informasi, membuat keputusan, serta
pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku konsumen.
Pendekatan
ketiga disebut sebagai sains marketing yang
didasari pada teori dan metode dari ilmu ekonomi dan statistika. Pendekatan ini dilakukan dengan mengembangkan dan menguji coba
model matematika berdasarkan hirarki kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow
untuk memprediksi pengaruh strategi marketing terhadap pilihan dan pola
konsumsi, yang dikenal dengan sebutan moving rate
analysis.
Ketiga
pendekatan sama-sama memiliki nilai dan tinggi dan memberikan pemahaman atas
perilaku konsumen dan strategi marketing dari sudut pandang dan tingkatan
analisis yang berbeda. Sebuah perusahaan dapat saja menggunakan salah satu atau
seluruh pendekatan, tergantung permasalahan yang dihadapi perusahaan tersebut.
Perilaku
konsumen dapat dipengaruhi oleh faktor budaya. Penyesuaian terhadap budaya ini
menjadi sangat penting karena munculnya peluang pasar di era globalisasi. Untuk
ini penyedia jasa harus memperhatikan dan mulai melakukan penyesuaian terhadap
perbedaan budaya across border market
9.4 Segmentasi dan Target Pasar
Pada
dasarnya, segmentasi pasar adalah proses membagi pasar keseluruhan suatu produk
atau jasa yang bersifat heterogen ke dalam beberapa segmen, di mana
masing-masing segmennya cenderung bersifat homogen dalam segala aspek.
Pembagian segmen pasar:
Pembagian segmen pasar:
1. Segmentasi
pasar konsumen.
Yaitu
membentuk segmen pasar dengan menggunakan ciri-ciri konsumen (consumer characteristic), kemudian
perusahaan akan menelaah apakah segmen-segmen konsumen ini menunjukkan
kebutuhan atau tanggapan produk yang berbeda.
2. Segmentasi
pasar bisnis
Yaitu
membentuk segmen pasar dengan memperhatikan tanggapan konsumen (consumer responses) terhadap manfaat
yang dicari, waktu penggunaan, daan merek.
3. Segmentasi
pasar yang efektif (Fandy Ciptono, 2001)
a. Dapat diukur (measurable), yaitu ukuran, daya beli, profil segmen;
b. Besar segmen (subtantial): yaitu cukup besar dan menguntungkan untuk dilayani;
a. Dapat diukur (measurable), yaitu ukuran, daya beli, profil segmen;
b. Besar segmen (subtantial): yaitu cukup besar dan menguntungkan untuk dilayani;
c.
Dapat dijangkau (accessible), artinya
dapat dijangkau dan dilayani secara efektif;
d.
Dapat dibedakan (differentiable),
artinya secara konseptual dapat dipisahkan dan member tanggapan yang berbeda
terhadap elemen dan program bauran;
e.
Dapat diambil tindakan (actionable),
yaitu program yang efektif dapat dirumuskan untuk menarik dan melayani segmen
tersebut.
Evaluasi
terhadap segmen pasar adalah adanya pertumbuhan segmen, daya tarik struktur
segmen secara keseluruhan dan SDM, serta tujuan dan sumber daya perusahaan
apakah perusahaan berinvestasi dalam segmen tersebut atau tidak
Adapun
penentuan Target Pasar, antara lain sebagai berikut:
a. Konsentrasi
segmen tunggal
Perusahaan memilih berkonsentrasi pada segmen tertentu. Hal itu dilakukan karena dana yang terbatas, segmen tersebut tidak memiliki pesaing, dan merupakan segmen yang paling tepat sebagai landasan untuk ekspansi ke segmen lainnya.
Perusahaan memilih berkonsentrasi pada segmen tertentu. Hal itu dilakukan karena dana yang terbatas, segmen tersebut tidak memiliki pesaing, dan merupakan segmen yang paling tepat sebagai landasan untuk ekspansi ke segmen lainnya.
b. Spesialisasi
selektif
Perusahaan
memilih sejumlah segmen pasar yang menarik dan sesuai dengan tujuan serta
sumber daya yang dimiliki.
c. Spesialisasi
pasar
Perusahaan memusatkan diri pada upaya melayani berbagai kebutuhan dari suatu kelompok pelanggan tertentu.
Perusahaan memusatkan diri pada upaya melayani berbagai kebutuhan dari suatu kelompok pelanggan tertentu.
d. Spesialisasi
produk
Perusahaan
memusatkan diri pada pembuatan produk tertentu yang akan dijual kepada berbagai
segmen pasar.
e. Pelayanan
penuh (full market coverage)
Perusahaan
berusaha melayani semua kelompok pelanggan dengan semua produk yang mungkin
dibutuhkan. Hanya perusahaan besar yang mampu menerapkan strategi ini, karena
dibutuhkan sumber daya yang sangat besar.
Treat as individual,
not as a number, itu merupakan kata hati pelanggan
dimanapun. Dengan kata lain perlakukan konsumen dengan cara baik dan benar
sehingga dapat memenuhi kebutuhan dengan baik. Jika itu dapat dilakukan
penyedia jasa maka hati pelanggan akan menjadi terpikat, maka profit dan
keuntungan tinggal soal waktu. Jika demikian maka penyedia jasa harus mulai
memperhatikan arti penting segmentasi dalam upaya memikat hati konsumen melalui
pemenuhan kebutuhan secara baik. Untuk memperkuat segmentasi pasar, perlu
dilakukan targeting untuk dapat membidik kelompok konsumen yang lebih spesifik.
9.5 Positioning dan Differensiasi
Produk Jasa
Positioning berhubungan dengan upaya
identifikasi, pengembangan, dan komunikasi keunggulan yang bersifat khas serta
unik. Dengan demikian, produk dan jasa perusahaan dipersepsikan lebih superior
dan khusus (distinctive) dibandingkan
dengan produk dan jasa pesaing dalam persepsi konsumen.
Fokus utama positioning adalah persepsi
pelanggan terhadap produk yang dihasilkan dan bukan hanya sekedar produk fisik.
Keberhasilan positioning sangat ditentukan oleh kemampuan sebuah perusahaan
untuk mendeferensiasikan atau memberikan nilai superior kepada pelanggan. Nilai
superior sendiri dibentuk dari beberapa komponen.
Sedangkan kunci utama keberhasilan
positioning terletak pada persepsi yang diciptakan dari: persepsi perusahaan
terhadap dirinya sendiri, persepsi perusahaan terhadap pesaing, persepsi
perusahaan terhadap pelanggan, persepsi pesaing terhadap dirinya sendiri,
persepsi pesaing terhadap perusahaan, persepsi pesaing terhadap pelanggan,
persepsi pelanggan terhadap dirinya sendiri, persepsi pelanggan terhadap
perusahaan, dan persepsi pelanggan terhadap pesaing.
9.6 Pengertian
Deferensiasi
Deferensiasi yang kompetitif adalah
tindakan merancang satu perbedaan yang berarti untuk membedakan penawaran
perusahaan dari lawan/pesaing. Deferensiasi bisa berdasarkan "produk"
yang ditawarkan dengan berbagai keistimewaan, penambahan pelayanan, peningkatan
kualitas, kemudahan pelanggan, dll. Deferensiasi "personil" dengan
cara mempekerjakan atau melatih orang-orang yang lebih baik dari pesaing
mereka. Sedangkan deferensiasi "saluran" yaitu perusahaan mencapai
deferensiasi dengan cara membentuk saluran distribusi, terutama jangkauan,
keahlian, dan kinerja saluran tersebut. Diferensiasi "citra" adalah
persepsi masyarakat terhadap perusahaan atau produk
Banyak
perusahaan jasa mengenalkan satu atau beberapa diferensiasi namun gagal karena
positioningnya kurang kuat. Oleh karena itu perusahaan jasa perlu mengembangkan
satu positioning yang membedakan tawarannya (offering) kepada pasarnya.
9.7 Harapan Konsumen Terhadap Jasa
Memahami
harapan konsumen menjadi salah satu kunci keberhasilan bagi penyedia jasa.
Harapan sering dinyatakan sebagai titik acuan (point of reference) Perbandingan antara apa yang dirasakan dengan
yang diharapkan. Jika harapan tidak sesuai, maka konsumen akan kecewa dan
kemungkinan pindah ke produk jasa pesaing. Sampai dimana perusahaan dapat
memenuhi harapan pelanggan akan berpengaruh terhadap persepsi kualitas jasa.
Oleh karena sangat penting artinya bagi perusahaan untuk mengetahui harapan
pelanggan dalam penyampaian pelayanan berkualitas.
Harapan
konsumen terdiri dari dua tingkatan yaitu harapan tertinggi (desired service) dan harapan minimum (adequacy service). Di antara tingkatan
itu ada zona toleransi yaitu konsumen mau menerima variasi dan heteoginitas
produk jasa.
Persepsi
pelanggan terhadap jasa aspek intangibility
yang menyebabkan produk jasa hanya dapat dirasakan telah menyebabkan kualitas
pelayanan (service quality) sangat
menentukan. Keunggulan suatu produk jasa tergantung keunikan serta kualitas
yang diperlihatkan oleh jasa tersebut, Jasa secara spesifikasi harus market
oriented serta memperhatikan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Untuk mengukur
seberapa jauh konsumen dapat merasakan kualitas jasa maka Parasuraman dan Zeithalm,
mengemukakan 5 dimensi yaitu reliability,
assurance, empati, tangible dan
responsiveness.
9.8 Peningkatan Kualitas Jasa Melalui
Sistem Informasi Pelanggan-Riset Pemasaran
Sistem
informasi kualitas pelayanan membantu perusahaan meningkatkan penyampaian
kualitas jasa yang optimal. Sistem ini membantu memperbaiki pelayanan dalam
organisasi sangat komplek, melibatkan pengetahuan tentang apa yang dilakukan
pada banyak bidang seperti tekhnologi, sistem pelayanan, seleksi pegawai,
training dan pelatihan, dan sistem penggajian.
Dengan
mengembangkan sistem informasi kualitas pelayanan yang efektif maka perusahaan
dapat memperoleh manfaat yaitu: mendorong dan memungkinkan manajemen untuk
menyatukan suara-suara konsumen dalam membuat keputusan; menemukan prioritas
pelayanan konsumen, mengidentifikasikan prioritas perbaikan pelayanan dan
memberikan pedoman dalam mengambil keputusan alokasi sumber daya; memperhatikan
pengaruh dari langkah awal kualitas pelayanan dan investas dan menawarkan
pekerjaan berdasarkan data untuk pelayanan utama yang baik dan pelayanan
sederhana yang benar.
9.9 Produk Jasa
Konsep
produk jasa harus dilihat sebagai suatu bundle
of activities antara produk jasa inti dan jasa-jasa pendukung, untuk dapat
menghasilkan total offering secara optimal, sehingga dapat memenuhi kebutuhan,
keinginan dan harapan konsumen. Dengan mengembangkan jasa-jasa pendukung suatu
produk jasa akan mempunyai keunggulan bersaing sebagai senjata untuk survive.
Selain
itu penyedia jasa dapat memilih alternatif strategi produk jasa yaitu:
melakukan penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk jasa dan
diverifikasi. Strategi mana yang dipilih sangat tergantung pada situasi
masing-masing perusahaan. Bagi penyedia jasa yang akan melakukan diversifikasi
harus memanfaatkan teknologi dan melakukan inovasi, sehingga dapat menghasilkan
produk jasa yang mampu memberikan solusi bagi pelanggan.
9.10
Strategi
Harga Jasa
Penentuan
harga produk jasa harus melihat dari perspektif konsumen dan pasar, yaitu
dengan melihat 3 (tiga) komponen yang dapat menjadi pertimbangan yaitu biaya,
nilai dan kompetisi. Penentuan produk jasa dapat dikaitkan dengan konsep net value, semakin besar manfaat yang
dirasakan dibanding biaya yang dikeluarkan akan dinilai konsumen sebagai
positif value.
Ada
3 (tiga) faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan harga yaitu
persaingan, elastisitas dan struktur biaya. Penyedia jasa dapat memilih banyak
alternatif dalam menentukan harga yang tepat sesuai dengan produk jasa yang
ditawarkan.
9.11
Promosi
dan Edukasi
Promosi
pemasaran berperan bagi perusahaan jasa tidak hanya sekedar memberikan
informasi penting mengenai produk jasa yang ditawarkan perusahaan, tetapi juga
sangat bermanfaat untuk mempengaruhi dan membujuk konsumen untuk membeli jasa
perusahaan dibanding pesaing. Untuk melakukan kegiatan promosi ini dengan
optimal perusahaan jasa dapat menggunakan bauran promosi yang terdiri dari
1. Periklanan (advertising)
Program periklanan yang dijalankan, kegiatan periklanan
merupakan sebagai media utama bagi perusahaan untuk menunjangan kegiatan
promosi dimana promosi memiliki tujuan utama untuk menarik konsumen agar mau
melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan. Saat ini periklanan yang
sering digalakan adalah melalui kegiatan media cetak dan elektronik. Dunia
iklan sendiri telah mengalami perkembangan yang amat pesat. Salah satunya
adalah dengan mulai maraknya iklan dengan melalui media internet.
2. Penjualan
Langsung (personal selling)
Promosi dengan mengutamakan penjualan yang dilakukan
secara pribadi atau lebih dikenal dengan istilah ‘Personal Selling’. Kegiatan
promosi yang satu ini bisa dikatakan sebagai ujung tombak dari kegiatan
promosi. Karena kegiatan personal selling adalah kegiatan promosi yang
mengharuskan berhadapan dengan konsumen dengan secara langsung. Melalui
kegiatan promosi personal selling secara professional akan sangat membantu
untuk tercaipanya penjualan yang secara fantastis. Personal selling yang
dilakukan secara besar meruapakan salah satu alternative solusi yang dapat
dilakukan oleh suatu perusahaan jika memilki modal yang cukup besar.
3.
Promosi penjualan (sales promotion)
Promosi yang dilakukan dengan mengedepankan kualitas
promosi penjualan. Promosi penjualan mengedepankan aspek penambahan intensitas
terhadap strategi dalam pemasaran produk. Penambahan intensitas disini dalam
meliputi berbagai aspek manajemen pemasaran, meliputi peningkatan kualitas
produk, kualitas pelayanan distribusi, menambah kualitas pelayanan agar menjadi
lebih baik dan masih banyak aspek lainnya yang dapat ditingkatkan demi
tercapainya kepuasan pelanggan atas produk yang telah dipasarkan.
4.
PR (public
relation)
Promosi dengan cara meningkatkan publisitas, cara
ini lebih condong untuk membentuk sebuah image yang lebih positif terhadap
produk yang ditawarkan. Pembentukan image positif ini dapat dilakukan dengan
iklan atau promosi yang memiliki karakteristik tertentu yang tidak dapat
dimiliki oleh strategi pemasaran produk lainnya. Bisa saja dapat dilakukan
dengan cara menciptakan suatu produk yang memiliki poin lebih, karakteristik
unik, dan mempunyai manfaat lebih yang dapat menjadi pemikiran positif
dihadapan konsumen. Jika hal ini dapat dilakukan maka image atau gambaran
positif yang berkembang di masyarakat akan terbentuk dan mendatangkan beberapa
faktor positif untuk mendongkrak penjualan.
5. Informasi
dari mulut ke mulut (word of mouth)
Informasi
dari mulut ke mulut merupakan teknik promosi melalui percakapan dari seseorang
kepada orang lain untuk menyebarkan informasi dimaksud. Dalam hal ini peranan
orang sangat penting dalam mempromosikan barang/jasa. Pelanggan sangat dekat
dengan penyampaian jasa. Dengan kata lain, pelanggan tersebut akan berbicara
dengan pelanggan lain yang berpotensial tentang pengalaman dalam menerima jasa
tersebut, sehingga informasi dari mulut ke mulut ini sangat besar pengaruhnya
dan dampaknya terhadap pemasaran jasa dibandingkan dengan aktivitas komunikasi
lainnya.
Promosi
dari mulut kemulut ini banyak digunakan oleh para pelaku bisnis karena murah
dan tanpa biaya dan dapat dikatakan sangat efektif.
Promosi
dari mulut-kemulut memang bisa diandalkan, untuk itu perlu diikuti dengan
kualitas yang baik. Jangan sampai pelanggan yang datang kecewa karena apa yang
mereka rasakan tidak sama dengan informasi yang diterima. Usahakan untuk
membuat para konsumen puas sehingga mereka kembali membeli dan menceritakan
kepada teman lainnya.
6. Pemasaran
Langsung (direct marketing)
Pemasaran
langsung merupakan bentuk promosi dengan cara memasarkan barang/jasa secara
langsung agar mendapat tanggapan secara langsung juga dari para konsumen.
Pemasaran langsung tidak harus bertatap
muka secara langsung tetapi pemasaranya ditujukan secara langsung kepada
seseorang. Pemasaran langsung ini bisa melalui penggunaan surat, telepon,
faksimil, e-mail dan alat penghubung nonpersonal lain untuk
berkomunikasi secara langsung dengan atau mendapatkan tanggapan langsung dari
pelanggan dan calon pelanggan tertentu.
7. Publikasi
9.13Perantara
Pemasaran
Salah
satu faktor penentu keberhasilan perusahaan jasa adalah bagaimana delivery proses produk jasanya dapat
berjalan secara efektif. Peran perantara dalam hal ini menjadi penting tidak
hanya berkaitan dengan keputusan pemilihan channel
(saluran) yang digunakan tetapi juga keputusan mengenai pemilihan lokasi dimana
perusahaan harus beroperasi.
Dalam
penentuan lokasi ada tiga pertimbangan penting yang harus diperhatikan
perusahaan jasa yaitu: konsumen mendatangi penyedia jasa, konsumen didatangi
penyedia jasa atau ada mediator (kepanjangan tangan) antara penyedia jasa dan
konsumen. Pemilihan saluran distribusi yang dapat digunakan perusahaan jasa
adalah: agen penjualan, agen/broker, franchise dan agen pembelian.
9.14Perusahaan
Dagang
Untuk
mempercepat pengembangan jasa baru maka proses linier dimana antar tahapan
berjalan saling berurutan menjadi tidak efisien. Banyak perusahaan memutuskan
untuk mempercepat pengembangan jasa baru dengan cara mengembangkan produk jasa
secara fleksibel dimana tahapan dilakukan secara fleksibel. Fleksibilitas ini
diperlukan untuk mempercepat proses, khususnya pada industri yang bergerak
dibidang teknologi, dimana jasa berubah dengan sangat cepat.
Tahapan
pengembangan jasa baru dapat dilihat pada tahapan berikut Pada pengembangan
jasa baru ada dua tahapan inti yaitu perencanaan (front end planning) dan tahap implementasi. Pada tahap front end
planning ada beberapa langkah yang dapat dipergunakan yaitu strategi
pengembangan bisnis, strategi pengembangan jasa baru, penerapan ide,
pengembangan konsep dan evaluasi dan analisis bisnis. Sedangkan tahap
implementasi terdiri dari beberapa langkah yaitu: pengembangan jasa dan
pelayanan, tes pasar, komersialisasi dan evaluasi.
9.15Penyajian
Jasa
Keberhasilan
penyedia jasa dalam penyajian jasa sangat tergantung pada peran beberapa pihak
seperti karyawan, konsumen dan perantara. Untuk itu perusahaan harus dapat
membina hubungan (relationship) yang baik atas dasar prinsip win-win situation untuk mendorong dan
mengoptimalkan kinerja mereka. Membina hubungan baik dengan karyawan dapat
dilakukan dengan meningkatkan kompensasi, mengurangi konflik dan motivasi.
Dengan pihak konsumen penyedia jasa harus dapat memanfaatkan mereka sebagai
co-production tanpa membebani konsumen. Dengan pihak perantara hubungan baik
dapat dikembangkan dengan pembagian tugas dan tanggung jawab dan pembagian
keuntungan yang jelas.
9.16Bukti
Fisik Jasa (Phisical Evidence)
Bukti
jasa dapat dibagi menjadi tiga yaitu yaitu orang (people), proses (process)
dan bukti fisik (physical evidence).
Ketiga elemen ini berkaitan dan saling mendukung keberhasil dalam menciptakan
image kualitas jasa. Selain people dan process, maka peran bukti fisik jasa
menjadi penting untuk mengeliminasi aspek intangibility
(ketidak nampakan) karena pelanggan seringkali melihat pada petunjuk-petunjuk
yang bersifat tangibility dalam
bentuk bukti fisik (phisical evidence),
Tanda-tanda bukti fisik yang harus diberikan penyedia jasa juga dapat
memberikan kesempatan untuk memberikan pesan-pesan yang kuat dan konsisten
berkenaan dengan karatkteristik jasa dan apa ingin ditampilkan atau dicapai
kepada segmen pasar sasaran.
Bukti
fisik berperan penting bagi penyedia jasa dalam membantu sosialiasi, berperan
memfasilitasi unjuk kerja atau tindakan-tindakan individual maupun
interdependen dari orang-orang yang berada di lingkungan servicescapes, yaitu konsumen dan karyawan, sebagai paket dari jasa
yang ditawarkan dalam suatu cara yang berbeda dengan cara menawarkan barang,
dapat membedakan perusahaan jasa dari pesaing serta menjadi tanda dari segmen
pasar mana yang dituju.
Adapun ruang lingkup bukti fisik jasa, antara lain:
a. Orang,
yaitu semua orang yang terlibat dalam penyajian jasa menjadi tanda-tanda bagi
konsumen berkenaan dengan jasa itu sendiri.
b. Proses,
yaitu Langkah aktual yang dialami konsumen atau aturan operasi jasa juga akan
menjadi bukti yang akan dipakai konsumen untuk menilai jasa dimaksud.
Karakteristik-karakteristik proses merupakan bentuk dari bukti yang dapat
digunakan oleh konsumen untuk menilai jasa.
c. Bukti
Fisik Jasa (Servicescapes), yaitu
penilaian konsumen tentang suatu jasa didasarkan kepada tanda-tanda yang
terdapat pada orang dan proses jasa. Tanda-tanda bagi bukti fisik memberikan
kesempatan istimewa kepada perusahaan dalam mengirimkan pesan-pesan yang kuat
dan konsisten berkenaan dengan apa yang ingin dicapai / diberikan perusahaan
kepada segmen pasar yang disasar serta karakteristik tertentu suatu jasa.
Peran-Peran Servicescapes:
1. Servicescapes
berperan sebagai paket jasa yang ditawarkan dalam suatu cara yang berbeda
dengan cara menawarkan barang.
2. Peran
lain dari servicescapes adalah
memfasilitasi (fasilitator) unjuk kerja atau tindakan-tindakan individual
maupun independent dari orang-orang yang berada dalam lingkungan servicescapes yaitu konsumen dan
karyawan.
3. Desain
servicescapes membantu sosialisasi
baik konsumen maupun karyawan sehingga dapat membangkitkan dan menuntun konsumen
dan karyawan untuk melakukan peran-peran tertentu yang diharapkan, untuk
berperilaku social tertentu dan dalam membangun hubungan antara dan diantara
mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar