Selasa, 24 November 2015

BAB XIII EKONOMI INDONESIA MENUJU 2015



EKONOMI INDONESIA MENUJU 2015

A.    Pengertian Industri
Istilah industri mempunyai 2 arti :
Industri dapat berarti himpunan perusahaan-perusahaan sejenis. Dalam konteks ini sebutan industri kosmetika, misalnya berarti himpunan perusahaan penghasil produk-produk kosmetik, industri tekstil maksudnya himpunan pabrik atau perusahaan tekstil.
Industri dapat pula merujuk ke suatu sektor ekonomi yang di dalamnya terdapat kegiatan produktif yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau barang setengah jadi. Kegiatan pengolahan itu sendiri dapat bersifat masinal, elektrikal atau bahkan manual.
Untuk yang pertama, industri dalam arti himpunan perusahaan-perusahaan yang sejenis, kata industri akan selalu dirangkai dengan kata yang menerangkan jenis industrinya, misalnya industri kosmetika, industri pakaian jadi, industri sepatu dan sebagainya. Sedangkan untuk yang kedua, istilah sektor industri maksudnya adalah sektor industri pengolahan (manufacturing), yakni sebagai salah satu sektor produksi atau lapangan usaha dalam perhitungan pendapatan nasional menurut pendekatan industri.

1.      Industri dan Industrialisasi
Sektor industri diyakini sebagai yang dapat menyimpan sektor-sektor lain dalam sebuah perekonomian menuju kemajuan. Produk-produk industrial selalu memiliki “dasar tukar (terms of trade) yang tinggi atau lebih menguntungkan serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan produk-produk sektor lain. hal ini disebabkan  karena sektor industri memiliki variasi produk yang sangat beragam dan mampu memberi manfaat margin keuntungan yang lebih menarik. Berusaha dalam bidang industri dan berniaga hasil-hasil industri juga lebih diminati karena proses produksi serta penanganan produknya  lebih bisa dikendalikan oleh manusia, tidak terlalu bergantung pada alam semisal musim atau keadaan cuaca.
Karena kelebihan-kelebihan sektor industri sebagaimana yang dipaparkan tadi, industrialisasi dianggap sebagai “obat  mujarab” (panacea) untuk mengatasi masalah pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang. Kebijaksanaan yang ditempuh seringkali dipaksakan, dalam arti hanya sekadar meniru pola kebijaksanaan pembangunan di negara-negara maju tanpa memperhatikan keadaan dan kondisi lingkungan yang ada seperti masalah ketersediaan bahan mentah, ketersediaan teknologi, kecakapan tenaga kerja, kecukupan modal dan sebagainya. Hasil pembangunan paling nyata yang dapat dilihat di negara-negara maju dan kemudian banyak dijadikan cermin pola pembangunan oleh negara-negara berkembang adalah kadar keindustrian perekonomian, yang dianggap merupakan sumber kekayaan, kekuatan dan keadaan seimbang negara-negara maju. Atas dasar itu, tidaklah mengherankan jika sebagian negara miskin beranggapan bahwa pengembangan sektor industri merupakan obat yang sangat ampuh untuk memperbaiki keadaan mereka.

B.     Konsep dan Pengertian Industrialisasi
Dalam sejarah pembangunan ekonomi konsep industrialisasi berawal dari proses revolusi industri pertama pada pertengahan abad ke-18 di Inggris dengan penemuan metode baru untuk pemintalan dan penenunan kapas yang menciptakan spesialisasi dalam produksi dan peningkatan produktivitas dari faktor produksi yang digunakan. Disusul kemudian dengan inovasi dan penemuan baru dalam pengolahan besi dan mesin uap yang mendorong inovasi dalam pembuatan antara lain besi baja, kereta api dan kapal tenaga uap. Setelah itu, revolusi industri kedua pada akhir abad ke-18 awal abad ke-19 dengan berbagai perkembangan teknologi dan inovasi.   Kemudian setelah perang dunia kedua (PD II), mulai muncul berbagai teknologi baru, seperti produksi masal dengan menggunakan assembly line, tenaga listrik, kendaraan bermotor, penemuan berbagai barang sintetis dan revolusi telekomunikasi, elektronik, bio, komputer dan penggunaan robot. Perkembangan-perkembangan ini semua merubah pola dan meningkatkan volume perdagangan dunia dan memacu proses industrialisasi di dunia (Pangestu dan Aswicahyono, 1996).
Dapat dikatakan bahwa industrialisasi  merupakan suatu proses interaksi antara pengembangan teknologi, inovasi, spealisasi dalam produksi dan perdagangan antar negara yang pada akhirnya sejalan dengan peningkatan pendapatan per kapita mendorong perubahan struktur ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari pengalaman dari negara-negara di Eropa yang mengalami proses industrialisasi pertama sejak revolusi industri hingga PD II dan proses kedua sejak PD II berakhir hingga tahun 1960-an. Pengalaman dari negara-negara tersebut menunjukkan bahwa industrialisasi merupakan suatu proses transisi jangka panjang dari ekonomi non industri (agraris) ke ekonomi industri, dimana secara relatif peranan sektor industri manufaktur di dalam ekonomi semakin kuat sedangkan peranan sektor-sektor primer semakin lemah. Ini bukan berarti bahwa sektor pertanian dan sektor pertambangan mengalami stagnasi atau pertumbuhan negatif, tetapi akibat perubahan pola konsumsi dari sisi AD, dan dari sisi AS seperti progres teknologi industri, secara relatif laju pertumbuhan output di sektor industri lebih cepat dibandingkan di kedua sektor primer tersebut. Pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa bersamaan dengan industri, sektor-sektor seperti keuangan/perbankan, transportasi dan jasa-jasa juga ikut berkembang pesat. Pola perubahan ini disebabkan karena adanya keterkaitan yang kuat dari sisi AS (produksi), maupun sisi AD antara sektor-sektor tersebut dengan sektor industri.
Oleh karena itu, proses industrialisasi di dalam suatu ekonomi sering juga diartikan sebagai proses perubahan struktur ekonomi. Chenery (2011) mengatakan bahwa meskipun pelaksanaannya sangat bervariasi antar negara, industrialisasi merupakan tahapan logis dalam proses perubahan struktur ekonomi. Tahapan ini diwujudkan secara historis melalui kenaikan kontribusi sektor industri manufaktur dalam permintaan konsumen, total produksi (PDB), ekspor dan kesempatan kerja. Secara hipotesis dapat dikatakan bahwa ada suatu korelasi positif antara perubahan struktur ekonomi, dimana industri manufaktur semakin dominan yang mencermikan tingkat industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, walaupun penekanan pada pembangunan industri manufaktur, industrialisasi juga sering diartikan sebagai suatu proses modernisasi yang mencakup semua sektor ekonomi yang ada yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan industri manufaktur. Artinya, tujuan daripada industrialisasi adalah untuk meningkatkan NT dari semua sektor ekonomi dengan industri sebagai motor penggerak utama.Pengalaman dibanyak negara menunjukkan bahwa industrialisasi memang sangat perlu karena menjamin pertumbuhan ekonomi. Tidak ada perekonomian yang bertumpu hanya pada sektor-sektor primer mampu mencapai tingkat pendapatan perkapita diatas US$ 500 selama jangka panjang. (Kahn, 1979).
Hanya sebagian kecil negara di dunia, dengan jumlah penduduk yang sedikit dan kekayaan minyak atau SDA lain yang melimpah, seperti Kuwait dan Libia, dapat berharap mencapai tingkat pendapatan perkapita yang tinggi tanpa lewat proses industrialisasi, tetapi hanya mengandalkan pada sektor pertambangan (minyak). Indonesia, sebagai suatu contoh, sejak industrialisasi dilakukan 31 tahun lalu hingga krisis ekonomi terjadi pendapatan perkapita naik cukup pesat tiap tahun. Kalau hanya mengandalkan sektor pertanian dan sektor pertambangan (migas) Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juga orang saat ini tidak mungkin pernah bisa mencapai laju pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun 7% dan tingkat pendapatan perkapita diatas      US$ 1.000 pada pertengahan tahun 2011.
Rute industrialisasi telah menunjukkan bukti-bukti keberhasilan bagi negara-negara industri maju, seperti Inggris, Jerman, Perancis, Rusia, Amerika Serikat, Kanada, Jepang dan Australia yang telah maju terlebih dahulu sejak abad ke-18 dan ke-19 lalu. Melihat keberhasilan ini, banyak LCD’s, termasuk Indonesia, yang mendapatkan kemerdekaannya setelah PD II usai, mencoba menggunakan model-model industrialisasi yang telah berhasil diterapkan di negara-negara industri maju tersebut (Hasibuan, 1993).Namun perlu dipahami bahwa walaupun penting bagi kelangsungan pertumbuhan ekonomi, industrialisasi itu sendiri bukan tujuan akhir, melainkan hanya merupakan salah satu strategi yang harus ditempuh untuk mendukung proses pembangunan ekonomi guna mencapai tingkat pendapatan perkapita yang tinggi (Riedel, 1992).
Hasil dari suatu proses industrialisasi dapat dilihat pada tingkat makro dan mikro. Pada tingkat makro, hasilnya dapat diukur dengan sejumlah indikator, diantaranya  Besarnya nilai tambah sektor industri manufaktur (NTSIM) dan rata-rata pertumbuhannya per tahun.Pangsa PDB sektor industri manufaktur atau secara relatif terhadap pangsa PDB sektor-sektor ekonomi lain.NTSIM perkapita dan rata-rata pertumbuhannya per tahun.Besarnya ekspor manufaktur atau secara relatif terhadap ekspor dari sektor-sektor lain.Pangsa ekspor manufaktur di dalam total ekspor atau ekspor non-migas.
Pada tingkat meso, keberhasilan industrialisasi dapat dilihat dari 3 aspek :
a         Tingkat diversifikasi output, baik di dalam satu kelompok barang (misalnya barang konsumsi) atau untuk semua kategori, termasuk barang-barang modal dan input perantara.
b        Adanya pergeseran dari barang-barang berbobot teknologi rendah ke barang-barang dengan kandungan teknologi tinggi.
c         Adanya keterkaitan produksi (production linkages) yang kuat antara industri, yang mencerminkan rendahnya ketergantungan sektor tersebut terhadap impor.
Pada tingkat mikro, keberhasilan industrialisasi dapat dilihat pada kinerja perusahaan secara individu atau kelompok, mulai dari pertumbuhan volume output rata-rata per tahun, skala usaha, hingga keuntungan bersih per satu unit output yang dihasilkan.Dengan keterbatasan data atau studi-studi empiris, di dalam bab ini, yang dibahas hanya beberapa dari indikator-indikator makro yang disebut di atas. Salah satunya adalah pangsa NTSIM di dalam pembentukan PDB, berdasarkan indikator ini, hasil studi dari Aswicahyono (1996) yang memakai data Bank Dunia menunjukkan bahwa selama periode 1965 sampai 1995, Indonesia masih tertinggal di dalam proses industrialisasi dibandingkan negara-negara lain. Tahun 1995, tingkat industrialisasi Indonesia setara dengan  Malaysia, tetapi lebih rendah dibandingkan dengan Cina, Brazil, Meksiko, Korea Selatan, India, Turki dan Thailand. Peringkat terbawah dipegang terus oleh Indonesia sampai dengan awal dekade 1990-an pada saat kontribusi industrinya mencapai 20%. Sementara Malaysia, misalnya telah mencapai persentase tersebut pada awal tahun 1980-an. Namun, setelah itu peranan industri manufaktur di Indonesia semakin kuat dan pada tahun 1994 telah berada pada posisi di atas Turki, India dan Meksiko dan hampir setara dengan Brazil, namun masih di bawah Cina, Malaysia, Korea Selatan dan Thailand.
Di dalam kelompok ASEAN, menunjukkan bahwa di Indonesia sumbangan output industri manufaktur terhadap PDB masih relatif kecil. Struktur ini menandakan bahwa Indonesia belum merupakan suatu negara industri dibandingkan dengan misalnya Malaysia dan Thailand. Thailand merupakan negara pertama yang berhasil mengangkat industri manufaktur sebagai kontributor PDB terbesar tahun 1980 (walaupun pada tahun 1995 pangsa PDB industri tercatat lebih kecil dibandingkan Malaysia). Malaysia menyusul, ketika industri manufaktur melampaui pertanian pada tahun 1984 dan sejak tahun 1987 menjadi the leading sector. Sedangkan Indonesia mengalami hal yang sama baru sejak tahun 1990-an.
Walaupun tingkat industrialisasinya  masih relatif rendah, namun prosesnya cukup pesat, kalau pertumbuhan output industri dapat digunakan  sebagai salah satu alat ukur. Seperti yang dapat dilihat di Tabel 2, laju pertumbuhan nilai output (NO) industri rata-rata per tahun di Indonesia cukup tinggi diantara negara-negara ASEAN, walaupun untuk periode 1990 – 1995 masih lebih rendah dibandingkan Thailand dan Malaysia. Tetapi dibanding Filipina, Myanmar dan Singapura, growth trand-nya mengalami penurunan dari rata-rata 12,6% selama periode 1980 – 1990 ke 11,2% selama periode 1980 – 1995. Sedangkan pertumbuhan di tiga negara tersebut menunjukkan pertumbuhan yang sangat besar, yang tadinya mengalami resesi pada tahun 1980-an menjadi sektor yang booming pada tahun 1990-an.
Indikator ketiga untuk mengukur tingkat industrialisasi adalah NTSIM perkapita. Seperti halnya dalam kontribusi NO terhadap pembentukan PDB .Negara-negara yang telah lebih awal memulai industrialisasi seperti Meksiko, Brazil dan Turki memiliki NTSIM perkapita 15 hingga 30 kali lebih besar daripada yang dimiliki Indonesia. Negara-negara lain memiliki NTSIM perkapita 5 sampai 10 kali lebih tinggi daripada Indonesia. Namun, dengan laju pertumbuhan NT rata-rata per tahun yang cukup pesat, pada tahun 1980-an peringkat Indonesia berada di atas Cina dan India. Brazil, Meksiko dan Turki yang pada tahun 1965 jauh di atas Indonesia, pada tahun 1992 NTSIM perkapita negara-negara tersebut menjadi 5 sampai 6 kali lebih besar daripada Indonesia. Hasil studi ini menunjukkan bahwa dari semua negara-negara yang diteliti tersebut, hanya Korea Selatan yang semakin jauh meninggalkan posisi Indonesia. Hal ini sama sekali tidak mengherankan mengingat bahwa Korea Selatan memang merupakan salah satu negara di Asia Timur yang sangat berhasil dalam pelaksanaan industrialisasinya.

Indonesia berada pada posisi terendah dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara, termasuk Cina maupun di dalam kelompok LDC’s dan negara-negara maju. Tahun 1980, rasionya hanya sekitar 51 dollar AS, dibandingkan rata-rata Asia Tenggara sebesar 84 dollar AS. Namun demikian, dilihat dari pertumbuhannya, hingga tahun 1977, sebelum krisis ekonomi terjadi, NTSIM perkapita di Indonesia naik cukup pesat. Tetapi, tahun 1998, akibat hancurnya sektor industri manufaktur, karena dilanda krisis, NTSIM perkapita merosot ke 200 dollar AS dan pada tahun 1999 sekitar 169 dollar AS.
Sama seperti rendahnya PDB perkapita tidak harus berarti jumlah output yang dihasilkan negara bersangkutan rendah. Karena jumlah penduduk di Indonesia sangat besar dan ini sangat menentukan besar kecilnya rasio NTSIM terhadap jumlah penduduk. Tetapi, bagaimana pun juga, indikator ini mendukung indikator-indikator sebelumnya yang mencerminkan bahwa tingkat industrialisasi di Indonesia masih pada tahap awal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar