EKONOMI INDONESIA MENUJU 2015
A. Pengertian
Industri
Istilah industri
mempunyai 2 arti :
Industri dapat berarti himpunan perusahaan-perusahaan
sejenis. Dalam konteks ini sebutan industri kosmetika, misalnya berarti
himpunan perusahaan penghasil produk-produk kosmetik, industri tekstil
maksudnya himpunan pabrik atau perusahaan tekstil.
Industri dapat pula merujuk ke suatu sektor ekonomi yang
di dalamnya terdapat kegiatan produktif yang mengolah bahan mentah menjadi
barang jadi atau barang setengah jadi. Kegiatan pengolahan itu sendiri dapat
bersifat masinal, elektrikal atau bahkan manual.
Untuk yang pertama, industri dalam arti himpunan
perusahaan-perusahaan yang sejenis, kata industri akan selalu dirangkai dengan
kata yang menerangkan jenis industrinya, misalnya industri kosmetika, industri
pakaian jadi, industri sepatu dan sebagainya. Sedangkan untuk yang kedua,
istilah sektor industri maksudnya adalah sektor industri pengolahan
(manufacturing), yakni sebagai salah satu sektor produksi atau lapangan usaha
dalam perhitungan pendapatan nasional menurut pendekatan industri.
1.
Industri
dan Industrialisasi
Sektor industri diyakini sebagai yang dapat menyimpan
sektor-sektor lain dalam sebuah perekonomian menuju kemajuan. Produk-produk
industrial selalu memiliki “dasar tukar (terms of trade) yang tinggi atau lebih
menguntungkan serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan
produk-produk sektor lain. hal ini disebabkan
karena sektor industri memiliki variasi produk yang sangat beragam dan
mampu memberi manfaat margin keuntungan yang lebih menarik. Berusaha dalam
bidang industri dan berniaga hasil-hasil industri juga lebih diminati karena
proses produksi serta penanganan produknya
lebih bisa dikendalikan oleh manusia, tidak terlalu bergantung pada alam
semisal musim atau keadaan cuaca.
Karena kelebihan-kelebihan sektor industri sebagaimana
yang dipaparkan tadi, industrialisasi dianggap sebagai “obat mujarab” (panacea) untuk mengatasi masalah
pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang. Kebijaksanaan yang ditempuh
seringkali dipaksakan, dalam arti hanya sekadar meniru pola kebijaksanaan
pembangunan di negara-negara maju tanpa memperhatikan keadaan dan kondisi
lingkungan yang ada seperti masalah ketersediaan bahan mentah, ketersediaan
teknologi, kecakapan tenaga kerja, kecukupan modal dan sebagainya. Hasil
pembangunan paling nyata yang dapat dilihat di negara-negara maju dan kemudian
banyak dijadikan cermin pola pembangunan oleh negara-negara berkembang adalah
kadar keindustrian perekonomian, yang dianggap merupakan sumber kekayaan,
kekuatan dan keadaan seimbang negara-negara maju. Atas dasar itu, tidaklah
mengherankan jika sebagian negara miskin beranggapan bahwa pengembangan sektor
industri merupakan obat yang sangat ampuh untuk memperbaiki keadaan mereka.
B. Konsep
dan Pengertian Industrialisasi
Dalam sejarah pembangunan ekonomi konsep industrialisasi
berawal dari proses revolusi industri pertama pada pertengahan abad ke-18 di
Inggris dengan penemuan metode baru untuk pemintalan dan penenunan kapas yang
menciptakan spesialisasi dalam produksi dan peningkatan produktivitas dari
faktor produksi yang digunakan. Disusul kemudian dengan inovasi dan penemuan
baru dalam pengolahan besi dan mesin uap yang mendorong inovasi dalam pembuatan
antara lain besi baja, kereta api dan kapal tenaga uap. Setelah itu, revolusi
industri kedua pada akhir abad ke-18 awal abad ke-19 dengan berbagai
perkembangan teknologi dan inovasi.
Kemudian setelah perang dunia kedua (PD II), mulai muncul berbagai
teknologi baru, seperti produksi masal dengan menggunakan assembly line, tenaga
listrik, kendaraan bermotor, penemuan berbagai barang sintetis dan revolusi
telekomunikasi, elektronik, bio, komputer dan penggunaan robot.
Perkembangan-perkembangan ini semua merubah pola dan meningkatkan volume
perdagangan dunia dan memacu proses industrialisasi di dunia (Pangestu dan
Aswicahyono, 1996).
Dapat dikatakan bahwa industrialisasi merupakan suatu proses interaksi antara
pengembangan teknologi, inovasi, spealisasi dalam produksi dan perdagangan
antar negara yang pada akhirnya sejalan dengan peningkatan pendapatan per
kapita mendorong perubahan struktur ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari
pengalaman dari negara-negara di Eropa yang mengalami proses industrialisasi
pertama sejak revolusi industri hingga PD II dan proses kedua sejak PD II
berakhir hingga tahun 1960-an. Pengalaman dari negara-negara tersebut
menunjukkan bahwa industrialisasi merupakan suatu proses transisi jangka
panjang dari ekonomi non industri (agraris) ke ekonomi industri, dimana secara
relatif peranan sektor industri manufaktur di dalam ekonomi semakin kuat
sedangkan peranan sektor-sektor primer semakin lemah. Ini bukan berarti bahwa
sektor pertanian dan sektor pertambangan mengalami stagnasi atau pertumbuhan
negatif, tetapi akibat perubahan pola konsumsi dari sisi AD, dan dari sisi AS
seperti progres teknologi industri, secara relatif laju pertumbuhan output di
sektor industri lebih cepat dibandingkan di kedua sektor primer tersebut.
Pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa bersamaan dengan industri,
sektor-sektor seperti keuangan/perbankan, transportasi dan jasa-jasa juga ikut
berkembang pesat. Pola perubahan ini disebabkan karena adanya keterkaitan yang
kuat dari sisi AS (produksi), maupun sisi AD antara sektor-sektor tersebut
dengan sektor industri.
Oleh karena itu, proses industrialisasi di dalam suatu
ekonomi sering juga diartikan sebagai proses perubahan struktur ekonomi.
Chenery (2011) mengatakan bahwa meskipun pelaksanaannya sangat bervariasi antar
negara, industrialisasi merupakan tahapan logis dalam proses perubahan struktur
ekonomi. Tahapan ini diwujudkan secara historis melalui kenaikan kontribusi
sektor industri manufaktur dalam permintaan konsumen, total produksi (PDB),
ekspor dan kesempatan kerja. Secara hipotesis dapat dikatakan bahwa ada suatu
korelasi positif antara perubahan struktur ekonomi, dimana industri manufaktur
semakin dominan yang mencermikan tingkat industrialisasi dan pertumbuhan
ekonomi.
Selain itu, walaupun penekanan pada pembangunan industri
manufaktur, industrialisasi juga sering diartikan sebagai suatu proses
modernisasi yang mencakup semua sektor ekonomi yang ada yang terkait langsung
maupun tidak langsung dengan industri manufaktur. Artinya, tujuan daripada
industrialisasi adalah untuk meningkatkan NT dari semua sektor ekonomi dengan
industri sebagai motor penggerak utama.Pengalaman dibanyak negara menunjukkan
bahwa industrialisasi memang sangat perlu karena menjamin pertumbuhan ekonomi.
Tidak ada perekonomian yang bertumpu hanya pada sektor-sektor primer mampu
mencapai tingkat pendapatan perkapita diatas US$ 500 selama jangka panjang.
(Kahn, 1979).
Hanya sebagian kecil negara di dunia, dengan jumlah
penduduk yang sedikit dan kekayaan minyak atau SDA lain yang melimpah, seperti
Kuwait dan Libia, dapat berharap mencapai tingkat pendapatan perkapita yang
tinggi tanpa lewat proses industrialisasi, tetapi hanya mengandalkan pada
sektor pertambangan (minyak). Indonesia, sebagai suatu contoh, sejak
industrialisasi dilakukan 31 tahun lalu hingga krisis ekonomi terjadi
pendapatan perkapita naik cukup pesat tiap tahun. Kalau hanya mengandalkan
sektor pertanian dan sektor pertambangan (migas) Indonesia dengan jumlah
penduduk lebih dari 200 juga orang saat ini tidak mungkin pernah bisa mencapai
laju pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun 7% dan tingkat pendapatan
perkapita diatas US$ 1.000 pada
pertengahan tahun 2011.
Rute industrialisasi telah menunjukkan bukti-bukti keberhasilan
bagi negara-negara industri maju, seperti Inggris, Jerman, Perancis, Rusia,
Amerika Serikat, Kanada, Jepang dan Australia yang telah maju terlebih dahulu
sejak abad ke-18 dan ke-19 lalu. Melihat keberhasilan ini, banyak LCD’s,
termasuk Indonesia, yang mendapatkan kemerdekaannya setelah PD II usai, mencoba
menggunakan model-model industrialisasi yang telah berhasil diterapkan di
negara-negara industri maju tersebut (Hasibuan, 1993).Namun perlu dipahami
bahwa walaupun penting bagi kelangsungan pertumbuhan ekonomi, industrialisasi
itu sendiri bukan tujuan akhir, melainkan hanya merupakan salah satu strategi
yang harus ditempuh untuk mendukung proses pembangunan ekonomi guna mencapai
tingkat pendapatan perkapita yang tinggi (Riedel, 1992).
Hasil dari suatu proses industrialisasi dapat dilihat
pada tingkat makro dan mikro. Pada tingkat makro, hasilnya dapat diukur dengan
sejumlah indikator, diantaranya Besarnya
nilai tambah sektor industri manufaktur (NTSIM) dan rata-rata pertumbuhannya
per tahun.Pangsa PDB sektor industri manufaktur atau secara relatif terhadap
pangsa PDB sektor-sektor ekonomi lain.NTSIM perkapita dan rata-rata
pertumbuhannya per tahun.Besarnya ekspor manufaktur atau secara relatif
terhadap ekspor dari sektor-sektor lain.Pangsa ekspor manufaktur di dalam total
ekspor atau ekspor non-migas.
Pada tingkat meso,
keberhasilan industrialisasi dapat dilihat dari 3 aspek :
a
Tingkat
diversifikasi output, baik di dalam satu kelompok barang (misalnya barang
konsumsi) atau untuk semua kategori, termasuk barang-barang modal dan input
perantara.
b
Adanya pergeseran dari barang-barang
berbobot teknologi rendah ke barang-barang dengan kandungan teknologi tinggi.
c
Adanya keterkaitan produksi (production
linkages) yang kuat antara industri, yang mencerminkan rendahnya ketergantungan
sektor tersebut terhadap impor.
Pada
tingkat mikro, keberhasilan industrialisasi dapat dilihat pada kinerja
perusahaan secara individu atau kelompok, mulai dari pertumbuhan volume output
rata-rata per tahun, skala usaha, hingga keuntungan bersih per satu unit output
yang dihasilkan.Dengan keterbatasan data atau studi-studi empiris, di dalam bab
ini, yang dibahas hanya beberapa dari indikator-indikator makro yang disebut di
atas. Salah satunya adalah pangsa NTSIM di dalam pembentukan PDB, berdasarkan
indikator ini, hasil studi dari Aswicahyono (1996) yang memakai data Bank Dunia
menunjukkan bahwa selama periode 1965 sampai 1995, Indonesia masih tertinggal
di dalam proses industrialisasi dibandingkan negara-negara lain. Tahun 1995,
tingkat industrialisasi Indonesia setara dengan
Malaysia, tetapi lebih rendah dibandingkan dengan Cina, Brazil, Meksiko,
Korea Selatan, India, Turki dan Thailand. Peringkat terbawah dipegang terus
oleh Indonesia sampai dengan awal dekade 1990-an pada saat kontribusi
industrinya mencapai 20%. Sementara Malaysia, misalnya telah mencapai
persentase tersebut pada awal tahun 1980-an. Namun, setelah itu peranan
industri manufaktur di Indonesia semakin kuat dan pada tahun 1994 telah berada
pada posisi di atas Turki, India dan Meksiko dan hampir setara dengan Brazil,
namun masih di bawah Cina, Malaysia, Korea Selatan dan Thailand.
Di
dalam kelompok ASEAN, menunjukkan bahwa di Indonesia sumbangan output industri
manufaktur terhadap PDB masih relatif kecil. Struktur ini menandakan bahwa
Indonesia belum merupakan suatu negara industri dibandingkan dengan misalnya
Malaysia dan Thailand. Thailand merupakan negara pertama yang berhasil
mengangkat industri manufaktur sebagai kontributor PDB terbesar tahun 1980
(walaupun pada tahun 1995 pangsa PDB industri tercatat lebih kecil dibandingkan
Malaysia). Malaysia menyusul, ketika industri manufaktur melampaui pertanian
pada tahun 1984 dan sejak tahun 1987 menjadi the leading sector. Sedangkan
Indonesia mengalami hal yang sama baru sejak tahun 1990-an.
Walaupun
tingkat industrialisasinya masih relatif
rendah, namun prosesnya cukup pesat, kalau pertumbuhan output industri dapat
digunakan sebagai salah satu alat ukur.
Seperti yang dapat dilihat di Tabel 2, laju pertumbuhan nilai output (NO)
industri rata-rata per tahun di Indonesia cukup tinggi diantara negara-negara
ASEAN, walaupun untuk periode 1990 – 1995 masih lebih rendah dibandingkan
Thailand dan Malaysia. Tetapi dibanding Filipina, Myanmar dan Singapura, growth
trand-nya mengalami penurunan dari rata-rata 12,6% selama periode 1980 – 1990
ke 11,2% selama periode 1980 – 1995. Sedangkan pertumbuhan di tiga negara
tersebut menunjukkan pertumbuhan yang sangat besar, yang tadinya mengalami
resesi pada tahun 1980-an menjadi sektor yang booming pada tahun 1990-an.
Indikator
ketiga untuk mengukur tingkat industrialisasi adalah NTSIM perkapita. Seperti
halnya dalam kontribusi NO terhadap pembentukan PDB .Negara-negara yang telah
lebih awal memulai industrialisasi seperti Meksiko, Brazil dan Turki memiliki
NTSIM perkapita 15 hingga 30 kali lebih besar daripada yang dimiliki Indonesia.
Negara-negara lain memiliki NTSIM perkapita 5 sampai 10 kali lebih tinggi
daripada Indonesia. Namun, dengan laju pertumbuhan NT rata-rata per tahun yang
cukup pesat, pada tahun 1980-an peringkat Indonesia berada di atas Cina dan
India. Brazil, Meksiko dan Turki yang pada tahun 1965 jauh di atas Indonesia,
pada tahun 1992 NTSIM perkapita negara-negara tersebut menjadi 5 sampai 6 kali
lebih besar daripada Indonesia. Hasil studi ini menunjukkan bahwa dari semua
negara-negara yang diteliti tersebut, hanya Korea Selatan yang semakin jauh
meninggalkan posisi Indonesia. Hal ini sama sekali tidak mengherankan mengingat
bahwa Korea Selatan memang merupakan salah satu negara di Asia Timur yang
sangat berhasil dalam pelaksanaan industrialisasinya.
Indonesia
berada pada posisi terendah dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara,
termasuk Cina maupun di dalam kelompok LDC’s dan negara-negara maju. Tahun
1980, rasionya hanya sekitar 51 dollar AS, dibandingkan rata-rata Asia Tenggara
sebesar 84 dollar AS. Namun demikian, dilihat dari pertumbuhannya, hingga tahun
1977, sebelum krisis ekonomi terjadi, NTSIM perkapita di Indonesia naik cukup
pesat. Tetapi, tahun 1998, akibat hancurnya sektor industri manufaktur, karena
dilanda krisis, NTSIM perkapita merosot ke 200 dollar AS dan pada tahun 1999
sekitar 169 dollar AS.
Sama
seperti rendahnya PDB perkapita tidak harus berarti jumlah output yang
dihasilkan negara bersangkutan rendah. Karena jumlah penduduk di Indonesia
sangat besar dan ini sangat menentukan besar kecilnya rasio NTSIM terhadap
jumlah penduduk. Tetapi, bagaimana pun juga, indikator ini mendukung
indikator-indikator sebelumnya yang mencerminkan bahwa tingkat industrialisasi
di Indonesia masih pada tahap awal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar